Senin, 13 Desember 2010

SOSIALISASI AGAMA DALAM KELUARGA



Prolog
            Dalam membahas tema judul diatas, paling tidak kita mesti memahami apa itu sosialisasi, bagaimana proses sosialisasi, untuk apa sosialisasi, hal ini penting untuk mengurangi kekaburan pemahaman dan pengertian. Pengetahuan dasar seperti ini dalam filsafat sering disebut dalam domain epistemologis, ontologis dan aksiologis.
            Setidaknya ada tiga variable yang mesti kita pahami terlebih dahulu sebelum menjelaskan sosialisasi agama dalam keluarga; pertama sosialisasi, kedua agama, ketiga keluarga.

Sosialisasi    

            Sosialisasi sederhana kita mengartikan proses didalamya include interaksi. Interaksi adalah salah satu bentuk sosialisasi, orang awam akan mengartikan sosialisasi dengan berteman. Orang yang tidak bisa bersosialisasi adalah orang yang tidak bisa bergaul dengan orang lain. Singkatnya sosialisasi adalah pergaulan atau lebih tepatnya lagi disebut proses interaksi antara satu individu dengan individu lainnya.
            Namun, tidak hanya cukup dengan pengertian di atas, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana bentuk sosialisasi itu dan sebenarnya untuk apa kita melakukan proses sosialisasi, kenapa satu individu merasa penting untuk bersosialisasi dengan individu lainnya.
            Pertanyaaan-pertanyaan di atas dijawab oleh sosiologi, sebab ilmu yang mempelajari tentang proses sosialisasi manusia adalah sosiologi. Namun pada sosiologi itu juga akan terbagi, ada yang mempelajari proses sosiologi pada tingkat makro ada juga mikro.   
            Sosiologi makro mempelajari masyarakat yakni proses interaksi individu dalam pandangan sistemik, misalnya teori structural-fungsional, konflik dan lainnya sedangkan sebaliknya dengan mikro, pada sosiologi tingkat mikro malah mempelajari bagaimana interaksi dalam masyarakat itu terjadi semisal teori interaksionisme simbolik dari Weber, dramaturgi Gofffman dan lainnya
            Pemahaman mikro makro ini bukan sekedar persoalan dikhotomisasi pandangan, tetapi berimplikasi pada hasil yang didapatkan. Sosiologi mikro memandang masyarakat dari bawah sedangkan sosiologi makro memandang masyarakat dari atas, sehingga wajar kalau pada posisi tengah-tengah menjadi remang. Dalam keremangan inilah Ritzer mengatakan bahwa sosiologi adalah ilmu berparadigma ganda.
            Paling tidak ada tiga paradigma besar yang bisa dipegang dalam mempelajari masyarakat atau sejauhmana tingkat kerunyaman proses sosialisasi; paradigma fakta social, definisi social dan perilaku social. Namun bukan pada tempatnya, sekiranya kalau saya hendak menjelaskan ketiga paradigma tersebut.

Agama

            Salah satu pendefinisian yang paling debatable dalam sejarah umat manusia adalah memberikan definisi agama. Tidak ada kesepakatan yang pasti dalam mendefinisikan agama, sebagaimana orang mendefinisikan apa itu cinta. Hal ini dirasa sangat wajar dan logis sebab proses pendefinisian adalah salah satu bentuk dari upaya pembatasan yang bersifat kognitif dalam rangka memudahkan pemahaman.
            Alih-alih memahami, mendefinisikan agama malah menjadi tikai. Ada beberapa alasan kenapa agama begitu sulit untuk didefinisikan secara mutlak; agama bersifat subjektif bukan fakta objektif an sich yang bisa diteliti dengan leluasa. Dalam agama ada yang dinamakan pengalaman keagamaan, mana pengalaman keagamaan ini sangat bersif individual dan pribadi. Pengalaman keagamaan satu orang tidak mungkin bisa disamakan dengan pengalaman keagamaan yang lainnya, dari pengalaman keagamaan inilah setiap individu berusaha memahami dan mendefinisi.
            Dikarenakan pengalaman keagamaan unik dan bersifat pribadi maka wajarlah dalam mendefinisikannya juga bersifat pribadi, sedangkan pakem-pakem akademis dalam mendefinisikan istilah agama tak lain dan tak bukan adalah proses generalisir yang disahkan untuk memahamkan pengalaman keagamaan yang dirasa hampir mirip. 
            Agama sangat bersifat subjektif, namun ada satu yang dianggap objektif yaitu norma atau ajaran-ajaran yang bersifat dogmatis dan doktriner. Pada dasarnya dogma atau norma ini juga bersifat subjektif, sebab pemahaman akan norma berasal dari subjek yang mengajak subjek lain untuk memahami norma sesuai dengan penafsirannya.
            Never genuin religion, its al about interpretable. Wilayah manusia adalah wilayah penafsiran, maka tak ada kewenangan untuk memaket bahwa salah satu definisi tentang agama yang benar sedang yang lain salah. Pemahaman ini menidak fitrah manusia.
            Rimba liar tafsir ini kemudian dibatasi ruang geraknya dengan kesepakatan tentang organized religion, agama formal seperti Islam, Kristen, Yahudi, Budhha dan lainnya. Dalam agama formal ini lantas dibedakan norma yang berlaku dengan agama formal yang lainnya. Pembedaan ini kemudian berimplikasi pada aturan dan tata cara beragama. Ritual agama Islam tidak akan sama dengan agama Kristen, Yahudi dan lainnya, sebab ada norma khusus yang berlaku dan itu menjadi identitas dan kekhasannya masing-masing.

Keluarga

            Tentunya kita sudah sepakat bahwa keluarga adalah sebentuk masyarakat yang paling kecil, Ibn Khaldun mengatakan bahwa tak akan ada masyarakat tanpa adanya keluarga hal ini sangat logis sebab masyarakat memang terdiri dari kumpulan keluarga-keluarga. Dalam membentuk sebuah masyarakat keluarga adalah sebuah keniscayaan. Begitulah kita mengartikan keluarga dengan sangat sederhana.
            Proses pembentukan keluarga diawali dengan pernikahan. Pernikahan adalah bertemunya dua pasang insan manusia laki-laki dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan, laki-laki dengan perempuan. Inti dasariah dari pernikahan atau tujuan manusia berkeluarga slah satunya adalah melanjutkan keturunan. Maka, keluarga yang terdiri dari laki-laki dan laki atau perempuan dengan perempuan belum sempurna karena tujuannya tidak tercapai sebab senyampang pengetahuan medis tak ada yang bisa menghasilkan keturunan antara laki-laki dengan laki-laki atau sebalinya perempuan dengan perempuan.
            Maka keluarga yang utuh dan baik adalah keluarga yang terdiri dari laki-laki dan perempuan yang mana akan dilengkapi dan disempurnakan dengan hadirnya anak. Sebab selain untuk mendapatkan keturunan keluarga adalah pemenuhan dari rasa kesendirian, keterasingan dan kesepian. Dalam ajaran islam keluarga adalah salah satu factor pembentuk individu yang sangat penting, keluarga adalah yang pertama dan utama dalam pembentukan karakter individu, dalam sebuah hadits  yang sudah mashyur bahwa keluarga sebagai madrasah keluarga adalah yang merndampingi anaknya setiap waktu jika keluarga dalam mendidiknya penuh dengan nilai-nilai kebajikan tentu anak hasil didikanya tidak akan jauh berbeda.

Mengupas; Sosialisasi Agama Dalam Keluarga

            Telah diuraikan bagaimana satu variable dengan variable lainnya meski secara terpisah. Apa itu sosialisasi, apa itu agama, apa itu agama. Selanjutnya pembahasan ini akan terfokus untuk memahami pengertian sosialisasi agama dalam keluarga.
            Dalam keluarga setidaknya terdiri dari ibu, bapak, anak ditambah mertua kalau masih hidup bareng mertua, ditambah pembantu kalau kaya, tetapi hal itu tidak penting yang penting adalah bagaimana proses sosialisasi agama dalam keluarga.
            Sosialisasi agama akan terasa sangat mudah kalau dalam satu keluarga menganut satu organized religion misalnya seluruh anggota yang ada semuanya beragama Islam, tetapi tidak menutup kemungkinan kalau dalam satu keluarga berbeda agama. Maka dalam perbedaan ini dituntut pemahaman proses sosialisasi agama yang lebih rumit, sebab berdasarkan asumsi yang telah disebutkan diatas ada norma-norma yang berbeda dalam satu agama dengan agama yang lain.
            Dikarenakan ada norma yang berbeda maka sewajarlah kalau satu agama bisa toleransi dengan agama yang lainnya. Misalnya ibunya Kristen, ayah Islam sedangkan semua anaknya Hindu, maka meskipun ayah adalah pemimpin dalam keluarga tidak serta merta ayah lantas memaksakan pemahaman norma islam kalau norma itu tidak sesuai dengan norma agama yang dianut

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar