Minggu, 12 Desember 2010

Antara Imajinasi, Agama dan Kekuasaan


''Diukur dari kaidah agama, tidak ada penyair atau pengarang yang bisa lolos masuk sorga, sebab mereka pernah sekali waktu melanggar atau meragukan kaidah agama dalam imajinasinya, ataupun dalam perbuatannya. Para penyair mempunyai reputasi yang buruk menurut Alquran!''

Begitulah HB Jassin, seorang yang pernah dijuluki Paus Sastra Indonesia, menulis kata-kata yang tak lazim. Tapi keadaan saat itu telah demikian menjerat laju pikirnya sebagai orang yang ingin membela kemandirian dunia imajinasi. Baginya, seperti juga banyak seniman berkata, dunia imajinasi adalah dunia yang berbeda dari dunia objektif, sehingga menghakimi imajinasi dengan kaidah hukum objektif adalah satu kekeliruan. Namun posisi Jassin saat itu kian terdesak, hingga muncullah pernyataan pesimis itu.

Cerita kemuraman di atas hadir tepatnya ketika cerpen Langit Makin Mendung karya Kipandjikusmin yang terbit dalam Majalah Sastra menyulut emosi sebagian masyarakat yang begitu latahnya mengangkat bendera agama demi mempertegas garis kepentingannya. Sebagai buntutnya, HB Jassin sebagai pimpinan redaksi majalah itu pun diseret paksa ke meja sidang Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara dan Majalah Sastra dengan nomor terbit bulan Agustus 1968 itu terpaksa diberangus, padahal kasus itu belum sampai diselesaikan di meja pengadilan.

Bila saja kejanggalan-kejanggalan dalam dunia seni itu dideretkan, tentu sudah panjanglah kasus-kasus serupa, bahkan di antaranya lebih dramatis. Sebab, penentangan atas kebebasan imajinasi seniman itu sudah mulai berlangsung sejak zaman kolonial, Orde Lama, Orde Baru, hingga kita menghirup era reformasi ini. Mulai dari pemberangusan karya sastra, pencekalan pentas musik dan pertunjukan teater serta tari, pelarangan tayangan film sampai pengharaman seni pahat patung dan terlebih melukis nabi atau bahkan Tuhan.

Alangkah masih banyaknya kasus-kasus serupa itu. Alasan-alasan pelarangan pun tak tanggung-tanggung, mulai dari karya seni itu dinilai tidak mendidik, terlalu pornografis, mengarah pada provokasi massa, sampai pada penghinaan Tuhan dan manusia-manusia kesayangan-Nya. Seperti baru-baru ini kasus yang menimpa grup musik Dewa dengan persoalan logo dan lirik lagunya yang diangap menghina kebesaran Tuhan dan menyesatkan.

Lalu, kita pun bertanya: apakah nasib imajinasi harus selalu melayang-layang di udara, sehingga bila saja mendarat di bumi selalu menimbulkan gempa kontroversi yang memuakkan? Inilah pertanyaan yang mungkin masih santun diajukan ke tengah masyarakat, di mana kenyataan artistik seringkali disebandingkan dengan kenyataan objektif. Indonesia, entah mengapa, masih saja menjadi negeri yang doyan menarik garis kesimpulan bahwa pertanggungjawaban imajinasi tetap tidak bisa berdiri di atas dunianya sendiri.

Apakah fenomena itu merupakan satu bentuk kegagalan, di mana karya seni kurang bisa bersentuhan dengan kenyataan 'hukum' atau 'aturan' dalam masyarakat? Bila demikian, adakah imajinasi memang sesuatu hal yang sudah terumuskan secara hitam-putih dalam realitas 'hukum' dan 'aturan' masyarakat? Lebih jauh, adakah Kebenaran (dengan K besar) agama atau negara akan menjadi luntur hanya karena rongrongan imajinasi? Apakah manusia tak boleh berimajinasi yang aneh-aneh? Lebih serius lagi, apakah ada imajinasi yang tidak aneh?

Karya seni tentu saja harus berdialog dengan kenyataan masyarakat. Hal ini pun tak bisa ditolak, karena seniman itu sendiri merupakan bagian dari keutuhan masyarakat di mana dia pasti berdialog dengan kenyataan hidup masyarakatnya sendiri. Di samping itu bahwa seburuk-buruknya rupa seniman, menurut hemat saya, pastilah ada kehendak untuk ikut serta mencerahkan batin serta visi masyarakat, agama dan negaranya. Minimal untuk dirinya sendiri. Saya yakin itu, sebab seniman sejati adalah seniman yang setia menyuarakan kejernihan suara hati. Lain halnya dengan seniman 'cap jadi'.

Untuk hasil karya seniman 'cap jadi' pun kita tidak bisa menghakimi hasil imajinasinya sebagai kenyataan objektif. Sebab, saya sangat sepakat dengan HB Jassin, bahwa kenyataan artistik yang penuh imajinasi memang berbeda dengan kenyataan objektif yang penuh dengan pakem aturan! Lebih jauh dari itu, alangkah naifnya bila imajinasi-imajinasi yang muncul dalam karya seni kemudian begitu saja ditelanjangkan sebagai keutuhan pesan yang menjelaskan satu bentuk kenyataan objektif.

Clive Bell, seorang filsuf seni modern, pernah menegaskan bahwa karya seni yang sejati adalah karya yang bisa memunculkan perasaan spesifik yang berbeda dari perasaan sehari-hari-semacam emosi estetik. Perasaan itu muncul, bisa juga secara spontan, karena dalam karya seni terdapat apa yang disebut Bell sebagai significant form (bentuk bermakna).

Perasaan sedih, haru, gembira, marah dsb yang muncul dalam peristiwa sehari-hari jelas berbeda dengan perasaan yang tumbuh ketika subyek berhadapan dengan karya seni, karena seni merajut 'bentuk bermakna' itu tadi. Dan, menurut hemat saya, 'bentuk bermakna' itu, yang di dalamnya mampu membangun gejolak hati subyek, timbul akibat pengembaraan imajinasi yang dilakukan oleh seniman. Sejauh pengembaraan imajinasi itu berkembang bebas, semakin hati subyek pembaca seni pun bergejolak hebat.

Di sisi lain, Leo Tolstoy menguraikan posisi pertanggungjawaban imajinasi seni, yang baginya terletak pada kejujuran. Kejujuran seniman dalam mendedahkan imajinasinya, adalah faktor penentu kesejatian karya seni. Tolstoy menekankan secara khusus unsur kejujuran ini dalam karya seni, di samping ekspresi 'individualitas' seniman dan universalitas nilai kemanusiaan yang harus dimunculkan.

Pada posisi ini Susanne K Langer menggaristebali potret seni yang dinamis, organis, hidup dan penuh vitalitas, juga turut mengantar karya seni mencapai titik estetikanya. Dengan demikian Susanne K Langer, seperti juga Tolstoy, mengharap pembaca seni pun dalam menghadapi karya seni, seperti menemukan 'kebenaran intuitif' yang dimilikinya, namun kerap terpinggirkan karena tak hentinya sapuan kibar tirai keseharian yang mencolok mata.

Begitulah kiranya prinsip-prinsip yang menunjukkan realitas seni, di mana imajinasi pada akhirnya menjadi satu kekuatan karya seni. Kebenaran imajinasi dalam seni pun, tak lagi relevan dalam penyejajarannya dengan kitab suci. Imajinasi seniman bisa saja berseberangan dengan kitab suci hasil tafsiran para ahli agama, apalagi dengan kebijakan penguasa. Sebab tafsir seniman atas kebenaran dalam kitab suci merupakan satu sentuhan saja dari jutaan sentuhan nurani hamba atas realitas Kebenaran Yang Maha Besar.

Pandangan satir seniman atas janji atau ilustrasi metafisis yang dituturkan Tuhan dalam kitab suci, bukanlah justru sebagai bentuk lain dari kebenaran kitab suci, melainkan satu refleksi estetis yang bisa saja dalam perkembangannya menyuguhkan pandangan korektif atas bentuk penghayatan ummat yang terlalu mendistorsi atau mereduksi atau terlalu mendramatisir kebenaran janji atau ilustrasi kitab suci.

Kalau saja permainan imajinasi disetarakan dengan kebenaran isi kitab suci, itulah salah kita yang paling besar. Sebab, kita sudah menghadap-hadapkan kreativitas makhluk dengan kreativitas Tuhan. Di dalam Islam, menurut hemat saya, kitab suci bernama Alquran adalah kitab yang sepenuhnya terbuka atas historisitas pemahaman manusia. Horizon Alquran sebagai medan teks Tuhan, pastilah sangat mampu menampung kebebasan imajinasi manusia seliar apa pun.

Toh, Alquran dalam beberapa ungkapan ayat-ayatnya menggunakan metafor-metafor, yang dengannya terang saja kita dituntut berimajinasi tentang isi dan bentuk semantik ayat tersebut. Masih ingat ayat Alquran, di mana Tuhan menantang hambanya agar menulis ilmu-Nya dengan air lautan yang telah dijadikan tinta? Itu bukti bahwa imajinasi manusia seliar apa pun, tak sehebat imajinasi Tuhan.

Bila ada kelompok masyarakat atau pun pihak penguasa yang takut akan keliaran imajinasi seniman, dengan demikian, pihak seniman harus mengakui bahwa posisi tawarnya begitu besar sehingga mereka perlu berbangga hati, terus maju dan pantang mundur. Di sisi lain, masyarakat dan penguasa pun tak perlu gegabah menghadapi serangan imajinasi seniman, karena itu justru akan memperlemah posisinya di hadapan kaum seniman.

Nah, jelaskan? Pemberangusan imajinasi dalam dunia kesenian lebih banyak unsur politis dan kekuasaannya! Kalau sang penguasa (baik dalam pengertian negara, agama maupun masyarakat) kebetulan suka dan apresiatif atas kesenian, pastilah tak ada gonjang-ganjing kebebasan imajinasi itu.

Mengenai Tuhan? Tuhan tak akan pernah khawatir dengan keliaran imajinasi hamba-hambanya! Buktinya jelas sekali sebagaimana termaktub dalam Alquran surat al-Kahfi ayat 109, surat al-Ankabut ayat 69, dan banyak lagi.

Jadi, mari kita tunjukkan kedewasaan kita, dengan menyambut kehadiran dunia imajinasi yang bergairah hidup!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar