Senin, 13 Desember 2010

Orientalis dan Studi Alquran


Mun'im A Sirry dan Pradana Boy telah menanggapi tulisan saya di Republika (01-04-2005) yang berjudul Selamat Datang, Profesor Azami!. Ketika mengkritik Prof Azami, Mun'im menulis bahwa bagi mereka yang sempat membaca karya-karya Barat tentang studi Alquran, walaupun tidak mendalam, tentu akan merasa aneh jika tidak menyebut Richard Bell, Montgomery Watt, Toshihiko Izutsu, Alford Welch, Daniel Madigan, atau Kenneth Cragg yang banyak menulis karya-karya simpatik tentang Alquran. Pernyataan Mun'im tersebut telah membelokkan masalah yang sebenarnya.

Bukan pakar
Prof Azami dalam karyanya memfokuskan kajiannya kepada perbandingan historisitas Alquran, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Dalam studi historisitas Alquran, Azami telah membahas pendapat orientalis terkemuka dunia dalam sejarah Alquran seperti Noldeke, Mingana, dan Jeffery.

Sedangkan orientalis yang disebutkan oleh Mun'im bukanlah orientalis terkemuka dalam studi sejarah Alquran. Judul buku Richard Bell dan Montgomery Watt (Introduction to the Quran, 1970) saja sudah menunjukkan bahwa karya Bell dan Watt adalah karya pengenalan kepada Alquran. Bell dan Watt hanya mengulangi pendapat para orientalis sebelumnya. Pendapat Bell yang menganggap Mushaf Abu Bakr RA adalah mushaf pribadi, misalnya, merupakan pengulangan dari pendapat para orientalis sebelumnya seperti Noldeke, Caentani, Schwally, Mingana, Jeffery dan lain-lain.

Mun'im juga tidak tepat ketika memasukkan nama Toshihiko Izutsu, Alford Welch, Daniel Madigan, dan Kenneth Cragg dalam kritikannya kepada Azami. Sebabnya, kesemua orientalis tersebut bukanlah sarjana apalagi pakar dalam studi sejarah Alquran. Padahal, karya Azami adalah membahas sejarah Alquran.

Selain itu, Mun'im dengan mengutip pendapat Arkoun, menyayangkan kaum Muslim karena mentashbihkan Mushaf Utsmani. Dalam pandangannya, para sahabat terkemuka mengeluh dengan terwujudnya standartisasi Mushaf Utsmani. Kesimpulan Mun'im terhadap Mushaf Usmani menunjukkan ketidaktahuannya tentang berbagai fakta dan pendapat para sahabat yang telah menerima Mushaf Utsmani dengan sepenuh hati.

Mus'ab ibn Sa'd menyatakan bahwa tidak seorangpun dari Muhajirin, Ansar, dan orang-orang yang berilmu mengingkari perbuatan Utsman RA. Ali bin Abi Talib menyatakan, ''Seandainya aku yang berkuasa, niscaya aku akan berbuat mengenai mushaf sebagaimana yang Utsman buat.'' Thabit ibn imarah al-Hanafi menyatakan bahwa ia mendengar dari Ghanim ibn Qis al-Mazni yang menyatakan, ''Seandainya Utsman belum menulis Mushaf, maka manusia akan mulai membaca puisi.'' Selanjutnya, Abu Majlaz mengatakan, ''Seandainya Utsman tidak menulis Alquran, maka manusia kan terbiasa membaca puisi.'' (Lihat karya ibn Abi Daud Sulaiman al-Sijistani, Kitab al-Masahif dan juga karya Abu 'Ubayd, Fadail Alqur'an).

Bahkan Abu Ubayd (224 H), sejak kurang lebih 1.200 tahun yang lalu, telah menghimpun pernyataan beberapa sahabat mengenai Mushaf Utsmani dan menyimpulkan bahwa hukumnya kafir bagi siapa yang mengingkari Mushaf Utsmani. Jadi, para sahabat menyepakati tindakan Utsman untuk menghimpun Alquran. Kesepakatan tersebut juga tercermin di dalam salah satu syarat sahnya sebuah qiraah, yaitu harus sesuai dengan ortografi Mushaf Utsmani. Syarat ini merupakan ijma ulama.

Keraguan pada Bibel Tanggapan kepada artikel Selamat Datang, Prof Azami! juga dikemukakan oleh Pradana Boy. Dalam pandangannya, dialog antarkitab perlu dilakukan secara akademis. Sebenarnya, pernyataan Pradana menunjukkan ketidaktahuannya akan sejumlah permasalah mendasar dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Perjanjian Lama, misalnya, juga merupakan kitab yang sangat tua dan mungkin paling banyak dikaji manusia, tetapi tetap masih merupakan misteri hingga kini.

Richard Elliot Friedman, dalam bukunya, Who Wrote the Bible, menulis bahwa hingga kini siapa yang sebenarnya menulis kitab ini masih merupakan misteri. (It is a strange fact that we have never known with certainty who produced the book that has played a central role in our civilization). Ia mencontohkan, The Book of Torah, atau The Five Book of Moses, diduga ditulis oleh Moses. Book of Lamentation ditulis Nabi Jeremiah. Separuh Mazmur ditulis King David. Tetapi, kata Friedman, tidak seorang pun tahu, bagaimana penyandaran itu memang benar. The Five Book of Moses, kata Friedman, merupakan teka-teki paling tua di dunia. Tidak ada satu ayat pun dalam Torah yang menyebutkan, bahwa Moses adalah penulisnya. Sementara di dalamnya dalam teks-nya dijumpai banyak kontradiksi.

Teks Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani Kuno yang pertama kali mendapat sambutan di pasaran adalah edisi naskah yang diterbitkan pada tahun 1516 oleh Desiderius Erasmus (1536). Tahun 1519, terbit edisi kedua Teks Bible dalam bahasa Yunani Kuno. Teks ini digunakan oleh Martin Luther dan William Tyndale untuk menerjemahkan Bible dalam Bahasa Jerman (1522) dan Inggris (1525). Tahun-tahun berikutnya banyak terbit Bible bahasa Yunani Kuno yang berbasis pada teks versi Byzantine. Antara tahun 1516 sampai 1633 terbit sekitar 160 versi Bible dalam bahasa Yunani Kuno. Dalam edisi Yunani Kuno ini dikenal istilah Textus Receptus yang dipopulerkan oleh Bonaventura dan Abraham Elzevier. Namun, edisi ini pun tidak jauh berbeda dengan 160 versi lainnya. (Lihat, Bruce M. Metzger, A Textual Commentary on the Greek New Testament, hlm xxii-xxiv). Jadi, meskipun sekarang talah ada kanonisasi, tetapi menurut Metzger, adalah mungkin untuk menghadirkan edisi lain dari The New Testament.

Selain itu, para sarjana Bibel terkemuka seperti Karl Lachmann (1851), Lobegott Friedrich Constantin von Tischendorf (1874), Samuel Prideaux Tregelles (1875), Henry Alford (1871), Brooke Foss Westcott (1901), Bernhard Weiss (1918), Hermann Freiherr von Soden (1914) telah meninggalkan Textus Receptus edisi Erasmus. Menurut Johann Salomo Semler (1791), bagian-bagian dari Perjanjian Baru bukanlah wahyu. Oleh sebab itu, menurut Semler, isi Perjanjian Baru tidak dapat diterima sebagai otoritatif [Lihat Werner Georg Kummel, The New Testament: The History of the Investigation of Its Problem (1972)].

Jadi, kalangan sarjana Bibel sendiri sudah menyimpulkan bahwa Bibel memuat sejumlah permasalahan mendasar yang tidak mungkin untuk diselesaikan. Bibel bukanlah sebuah kitab suci yang dipahami masyarakat Kristen awam. Studi kritis Bibel (Biblical criticism) telah berkembang dengan begitu mapan. Kajian historis terhadap Bibel yang telah dilakukan oleh para sarjana Bibel telah menunjukkan bahwa teks resmi/teks standart Bibel sama sekali tidak bisa diterima.

Jadi, dialog mengenai sejarah Bibel perlu diselesaikan terlebih dahulu oleh kalangan sarjana Bibel, sebelum melakukan dialog antarkitab. Sebabnya, banyak sarjana Kristen yang sudah pun menolak otentisitas Bibel. Jika sarjana Bible sendiri menunjukkan begitu seriusnya problema yang dihadapi teks Bible, maka sekarang sarjana dari kalangan Muslim yang mencoba-coba menyeret problema itu untuk diaplikasikan dalam studi Alquran.
Pengaruh orientalis

Selain itu, baik Mun'im atau Pradana menyebutkan beberapa orientalis seperti Watt, Madigan, Kenneth Cragg bersikap simpatik kepada Alquran. Padahal, Watt dan Cragg tetap menyatakan bahwa Nabi Isa AS mati di tiang salib, suatu kepercayaan yang secara diametral bertentangan dengan penjelasan Alquran. Sedangkan Madigan berpendapat para sahabat melakukan bid'ah karena telah menghimpun Alquran ke dalam sebuah kitab. Lebih jauh lagi, dalam pandangan Madigan, Alquran yang dihimpun dalam sebuah kitab merupakan sumber dari faham fundamentalisme agama. Sebenarnya, adalah hal yang normal dan bisa dipahami, bahwa para orientalis akan selalu mengkritik Alquran. Sepanjang sejarah, sejak Leo III (741) sehingga abad ke-21 ini, kajian orientalis terhadap Alquran selalu diwarnai dengan paradigma Yahudi-Kristen. Mereka menggunakan metodologi Bibel untuk diterapkan kepada Alquran. Mereka tidak akan menerima kebenaran Alquran. Jika mereka menerima kebenaran Alquran, konsekwensinya mereka akan masuk Islam dan meninggalkan agama mereka yang dengan sangat jelas disalahkan oleh Alquran.

Pendapat-pendapat yang menolak otentisitas Mushaf Utsmani telah dilakukan oleh para ulama sepanjang masa. Abu 'Ubayd, misalnya, pada abad ke-2 H pernah menyatakan, ''Usaha Utsman mengkodifikasi Alquran akan tetap dan sentiasa dijunjung tinggi, karena hal itu merupakan sumbangannya yang paling besar. Memang dikalangan orang-orang yang menyeleweng ada yang mencelanya, namun kecacatan merekalah yang tersingkap, dan kelemahan merekalah yang terbongkar.'' (Lihat al-Qurthubi, al-Jaami' li Ahkam al-Quran, 1: 84).

Selain itu, Abu Bakr al-Anbari, pada abad ke-3 H telah menulis buku berjudul al-Radd 'ala Man Khaalafa Mushaf Utsmaniy (Sanggahan Terhadap Orang yang Menyangkal Mushaf Utsmani). (al-Qurthubi, 1:5). Begitu juga dengan al-Qurthubi, pada abak ke-7 H, seorang ahli tafsir berwibawa dan masyhur, dalam mukadimah kitab tafsirnya menyediakan satu bab khusus tentang hujah dalam menyanggah orang yang mencela Alquran dan menyangkal Mushaf Utsmani dengan [dakwaan] adanya penambahan dan pengurangan. (al-Qurthubi, 1:80-86). Begitu juga dengan Prof Azami, pada abad ke-21 ini.

Sarjana Muslim mestinya memiliki pendekatan tersendiri terhadap kajian Alquran. Jika kita bersikap kritis maka kita harus terlebih dulu memiliki cara-pandang seorang Muslim, bukan cara pandang yang netral atau cara pandang yang cenderung dipengaruhi orientalis atau Islamolog Barat. Sebab ilmu itu sendiri tidak netral. Selama ini kajian para orientalis lebih bersifat empiris yang positivistik yang diwarnai oleh pandangan hidup Barat sekuler-liberal. Ini menunjukkan krisis epistemologis yang serius. Wallahu a'lam. (RioL)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar