Senin, 13 Desember 2010

Lagi, Kecucian Agama [Islam] Ternoda.


            Kita yang hidup di abad 21 ini semestinya tidak harus kaget manakala Mushadeq mengaku sebagai rasul sebab beberapa abad silam juga, meski kejadiannya tidak di bangsa ini, dalam sejarah Islam telah ada seseorang yang mengaku sebagai nabi namanya Musailimah. Namun kemudian ia lebih dikenal luas dengan sebutan Musailimah Al Kadzab karena kebohongannya mengaku sebagai seorang nabi.  
Dengan arif dan bijak semestinya kita bisa melihat fenomena kemunculan aliran kepercayaan sektarian ini tidak melulu dalam wilayah teologis (klaim kafir, sesat dan semacamnya) semata tapi juga pada wilayah sosiologis, kenapa hal itu bisa terjadi, factor apa yang menyebabkannya. Sehingga akhirnya kita bisa introspeksi tidak hanya mejustifikasi.
Dalam ranah sosiologis kemunculan aliran kepercayaan sektarian bisa jadi disebabkan sebagai salah satu bentuk eskapisme (pelarian diri) seseorang dari tidak mampunya menghadapi kenyataan hidup. Sebab pada dasarnya kebutuhan akan agama sangat bersifat personal dan pribadi.
Agama formal (organized religion)—meminjam istilahnya Budhy Munawar Rachman—yang diyakini sebagai salah satu pemecah masalah kehidupan ternyata tidak memberikan jawaban. Manusia yang semenjak lahirnya dinobatkan sebagai makhluk yang memiliki kesadaran transendensi kemudian berusaha mencari jawaban lain dengan jalannya sendiri yang akhirnya memungkinkan dirinya mendapat kesimpulan berbeda dengan pemahaman mayoritas. Muncullah orang yang mengaku sebagai malaikat jibril, sebagai nabi dan sebagainya.
Dalam hal ini, sesungguhnya setiap penodaan terhadap agama Islam selalu berada dalam wilayah sosiologis, namun kemudian pertanyaannya  


            Maha Besar Allah yang dengan janjinya akan terus menjaga kesucian agama ini (baca; Islam), terlebih penjagaanNya dalam wilayah teologis. Namun  

            Harus diakui secara jujur dan terbuka bahwa manusia membutuhkan agama. Meski dalam perjalanan “karirnya” agama selalu mendapatkan pelbagai macam tantangan, rintangan bahkan menjadi musuh utama beberapa pemikir garis ekstrim terlebih pada saat paradigma sekular mulai meluas dan dianut banyak orang, agama semakin tersudutkan.
            Namun sejarah membuktikan agama tidak punah malah manusialah yang beranjak musnah. Manusia yang dahulu mengecam bahwa Tuhan telah Mati-pun kini telah mati dan sekali lagi Tuhan tidak terbukti “tiada” meski manusia kerapkali sulit untuk membuktikan bahwa Tuhan “ada”.
            Kendati dulu agama dituduh sebagai candu masyarakat namun kebenaran yang sesungguhnya ternyata masyarakatlah yang sengaja mencandu-i agama sebab manusia tak akan bisa hidup tanpa agama. Sepanjang manusia hidup sepanjang itu pula agama akan tetap ada dan dibutuhkan.
Apalagi di tengah-tengah perkembangan teknologi informasi yang seakan berlari, setiap saat manusia selalu berhadapan dengan jutaan informasi yang muncul begitu saja, tak terduga, tak dapat ditolak, yang tampil dalam segala aspek kehidupan yang mengelilinginya. Hidup dalam kondisi ketidakmenentuan tidak mengenakkan dan akan selalu membutuhkan pegangan. Pedoman hidup yang paling aman tentu ada pada agama. Oleh karena itu agama adalah komponen yang niscaya dalam kehidupan manusia.    
Namun kemudian, pelbagai macam fenomena keagamaan yang muncul belakangan—Lia Aminudin yang mengaku sebagai malaikat jibril, ustadz Yusman Roy yang menggunakan dua bahasa dalam melaksanakan shalatnya, kasus Al Qur’an Suci, jema’at Ahmadiyah sampai kasus yang terakhir Al Qiyadah Al Islamiyah yang mengakui Al Mosaddeq sebagai nabi sekaligus rasul baru nya—sungguh sangat menyesakkan.
Sungguh sangat menyesakkan, di tengah karut marutnya kondisi bangsa dengan pelbagai macam problema yang belum tuntas kemunculan “nabi” yang sejatinya memberikan solusi malah menjadi “polusi” kepercayaan yang meresahkan.
Fenomena kemunculan pelbagai macam aliran sempalan, yang kemudian di fatwa sesat oleh MUI memang, mesti dipahami dalam konteks sosiologis tidak melulu dalam kacamata teologis.
Dalam ranah sosiologis kemunculan aliran kepercayaan sektarian bisa jadi disebabkan sebagai salah satu bentuk eskapisme (pelarian diri) seseorang dari tidak mampunya menghadapi kenyataan hidup. Agama formal (organized religion)—meminjam istilahnya Budhy Munawar Rachman—yang diyakini sebagai salah satu pemecah masalah kehidupan ternyata tidak memberikan jawaban. Manusia yang semenjak lahirnya dinobatkan sebagai makhluk yang memiliki kesadaran transendensi. Kemudian berusaha mencari jawaban lain yang akhirnya berbeda dengan pemahaman mayoritas.
Di samping, kemunculan aliran kepercayaan sektarian, ada realitas keagamaan lain namun jarang diperhatikan—yang padahal sama bahayanya—oleh kebanyakan orang yakni kapitalisasi atau bahkan eksploitasi agama, khususnya Islam, dalam dunia industri pertelevisian.
Selepas tayangan-tayangan klenik merajai semua tayangan televisi kini giliran tayangan-tayangan yang berbau keagamaan yang sedang menjadi primadona. Simbol-simbol Islam menghiasi setiap sudut acara televisi, sebut saja judul sinetron yang kalau diperhatikan selalu memakai simbol-simbol nama Islam misalnya, Azizah, Fatimah, Aisyah, Soleha.
Para sutradara mulai berani menampilkan para pemainnya memakai jilbab, terlepas apakah cerita yang dimainkannya itu islami atau tidak. Pemakaian nama-nama islami sebagai judul sinetron, atau para pemain yang berjilbab tentunya bukan untuk tujuan berdakwah tetapi sekedar alasan yang murni bisnis.
Manusia sangat membutuhkan agama selain sebagai pedoman hidupnya tetapi juga untuk berbisnis, kepentingan politik dan lain sebagainya sehingga agama kini hilang kewibaannya, khususnya Islam.
Dari sisi teologis agama islam terus-terus dirongrong dan diobrak abrik, dari sisi sosilogis agama islam sudah mengalami profanisasi, tak ada lagi yang tersisa dari      








s l = Z [ count:1'>            Never genuin religion, its al about interpretable. Wilayah manusia adalah wilayah penafsiran, maka tak ada kewenangan untuk memaket bahwa salah satu definisi tentang agama yang benar sedang yang lain salah. Pemahaman ini menidak fitrah manusia.
            Rimba liar tafsir ini kemudian dibatasi ruang geraknya dengan kesepakatan tentang organized religion, agama formal seperti Islam, Kristen, Yahudi, Budhha dan lainnya. Dalam agama formal ini lantas dibedakan norma yang berlaku dengan agama formal yang lainnya. Pembedaan ini kemudian berimplikasi pada aturan dan tata cara beragama. Ritual agama Islam tidak akan sama dengan agama Kristen, Yahudi dan lainnya, sebab ada norma khusus yang berlaku dan itu menjadi identitas dan kekhasannya masing-masing.

Keluarga

            Tentunya kita sudah sepakat bahwa keluarga adalah sebentuk masyarakat yang paling kecil, Ibn Khaldun mengatakan bahwa tak akan ada masyarakat tanpa adanya keluarga hal ini sangat logis sebab masyarakat memang terdiri dari kumpulan keluarga-keluarga. Dalam membentuk sebuah masyarakat keluarga adalah sebuah keniscayaan. Begitulah kita mengartikan keluarga dengan sangat sederhana.
            Proses pembentukan keluarga diawali dengan pernikahan. Pernikahan adalah bertemunya dua pasang insan manusia laki-laki dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan, laki-laki dengan perempuan. Inti dasariah dari pernikahan atau tujuan manusia berkeluarga slah satunya adalah melanjutkan keturunan. Maka, keluarga yang terdiri dari laki-laki dan laki atau perempuan dengan perempuan belum sempurna karena tujuannya tidak tercapai sebab senyampang pengetahuan medis tak ada yang bisa menghasilkan keturunan antara laki-laki dengan laki-laki atau sebalinya perempuan dengan perempuan.
            Maka keluarga yang utuh dan baik adalah keluarga yang terdiri dari laki-laki dan perempuan yang mana akan dilengkapi dan disempurnakan dengan hadirnya anak. Sebab selain untuk mendapatkan keturunan keluarga adalah pemenuhan dari rasa kesendirian, keterasingan dan kesepian. Dalam ajaran islam keluarga adalah salah satu factor pembentuk individu yang sangat penting, keluarga adalah yang pertama dan utama dalam pembentukan karakter individu, dalam sebuah hadits  yang sudah mashyur bahwa keluarga sebagai madrasah keluarga adalah yang merndampingi anaknya setiap waktu jika keluarga dalam mendidiknya penuh dengan nilai-nilai kebajikan tentu anak hasil didikanya tidak akan jauh berbeda.

Mengupas; Sosialisasi Agama Dalam Keluarga

            Telah diuraikan bagaimana satu variable dengan variable lainnya meski secara terpisah. Apa itu sosialisasi, apa itu agama, apa itu agama. Selanjutnya pembahasan ini akan terfokus untuk memahami pengertian sosialisasi agama dalam keluarga.
            Dalam keluarga setidaknya terdiri dari ibu, bapak, anak ditambah mertua kalau masih hidup bareng mertua, ditambah pembantu kalau kaya, tetapi hal itu tidak penting yang penting adalah bagaimana proses sosialisasi agama dalam keluarga.
            Sosialisasi agama akan terasa sangat mudah kalau dalam satu keluarga menganut satu organized religion misalnya seluruh anggota yang ada semuanya beragama Islam, tetapi tidak menutup kemungkinan kalau dalam satu keluarga berbeda agama. Maka dalam perbedaan ini dituntut pemahaman proses sosialisasi agama yang lebih rumit, sebab berdasarkan asumsi yang telah disebutkan diatas ada norma-norma yang berbeda dalam satu agama dengan agama yang lain.
            Dikarenakan ada norma yang berbeda maka sewajarlah kalau satu agama bisa toleransi dengan agama yang lainnya. Misalnya ibunya Kristen, ayah Islam sedangkan semua anaknya Hindu, maka meskipun ayah adalah pemimpin dalam keluarga tidak serta merta ayah lantas memaksakan pemahaman norma islam kalau norma itu tidak sesuai dengan norma agama yang dianutnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar