Senin, 13 Desember 2010

Memahami Alquran sebagai Sebuah Puisi



MENILIK gaya bahasa dan iramanya, tidak bisa diingkari Alquran adalah puisi. Dan ketinggian bahasa sastranya melebihi puisi-puisi yang diciptakan oleh para pujangga Arab kala itu. Bahkan Alquran mampu memberikan nuansa tersendiri yang menyentuh kepada pembaca dan pendengarnya - yang tidak mengerti artinya sekali pun - ketika ia dibaca sesuai dengan aturan bacaan yang benar (tajwid-nya).

Seperti beberapa nabi lain yang diutus Tuhan dengan keistimewaan berupa mukjizat, yang salah satu hikmahnya untuk menandingi kecongkakan kaum-kaum yang merasa hebat dengan apa yang ada pada mereka, Nabi Muhammad diutus dan diberikan mukjizat pula untuk itu.

Misalnya Nabi Musa diberi mukjizat berupa tongkat sebagai tandingan kepada tukang-tukang sihir, karena tongkat Nabi Musa bisa berubah menjadi ular yang lebih besar dan menelan semua ular yang diciptakan oleh tukang-tukang sihir tadi.

Nabi Isa diberi mukjizat dapat menyembuhkan orang buta bawaan, lepra dan bahkan menghidupkan orang mati di tengah masyarakat yang mempunyai pengetahuan dan keahlian medik yang tinggi.

Karena Nabi Muhammad diutus di tengah masyarakat yang mempunyai tradisi kesusastraan yang tinggi, ia diberi mukjizat berupa kitab yang mempunyai kandungan pesan dan nilai sastra yang sangat tinggi karena keindahan susunan bahasanya yang luar biasa.

Dan karena ketinggian itu, Alquran sendiri mengatakan bahwa tidak ada dan tidak akan pernah ada yang mampu membuat dan menandingi ketinggian mutu Alquran dari segala aspek, termasuk di dalamnya nilai sastranya tadi.

Akan tetapi sebagian besar umat Islam salah paham terhadap persoalan ini dan menolak kenyataan bahwa Alquran adalah puisi, hanya karena ada ayat Alquran yang mengatakan, "Dan Alquran itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya. Dan bukan pula perkataan seorang tukang tenung. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya." (Al Haaqqah: 41-42).

Ayat ini sebenarnya adalah counter terhadap tuduhan dan ejekan orang-orang yang tidak mau menerima kebenaran yang dibawa Alquran dan mengatakan, "Dia adalah penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaannya" (Al Thuur: 30), "Wahai orang yang diturunkan Alquran kepadanya, sesungguhnya kamu adalah orang yang majnun." (Al Hijr: 6), dan "Apakah kami harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kami karena seorang penyair majnun ini?" (Al Shaaffaat: 36).

Kesalahpahaman yang dimaksudkan terjadi karena kesalahan dalam memahami arti majnun dalam dua ayat yang disebut terakhir yang biasanya diartikan "gila". Akibatnya terjadi kesalahan dalam memahami ayat dalam Surat Al Haaqqah: 41 di atas.

Harus Diyakini

Memang benar dan ini yang harus diyakini, Alquran bukan tenung sesuai dengan pernyataan Alquran sendiri bahwa ia "bukan perkataan seorang tukang tenung". Akan tetapi, berdasarkan fakta empirik dari susunan bahasa Alquran, adalah tidak benar kalau dikatakan kitab tersebut bukan puisi (syi'r) dengan berdasar pada pernyataan Alquran bahwa, "Alquran bukanlah perkataan seorang penyair."

Jadi, singkatnya Alquran adalah puisi tetapi ia bukanlah perkataan yang keluar dari mulut penyair. Ini bukan pula berarti alquran bukan perkataan Nabi Muhammad SAW.

Kesulitan untuk memahami kenyataan ini akan hilang apabila melihat latar belakang sosio-historis sebelum sampai pada saat Alquran diturunkan. Pada saat itu masyarakat Arab jahiliyah memandang syair sebagai segala-galanya.

Karena itu kedudukan penyair dalam masyarakat Arab begitu tinggi karena dia dianggap sebagai kekayaan dan kekuatan suku. Dan karena dianggap mempunyai kekuatan lebih, seorang penyair dijadikan sebagai pemimpin suku pada masa damai maupun masa perang. Ucapan-ucapannya dipercayai mempunyai kekuatan melebihi serdadu dengan senjata dan tombak karena mempunyai kekuatan magis yang dapat mengalahkan musuh.

Bahkan lebih dari itu, ketika seorang penyair dari suku tertentu diserang dengan menggunakan syair oleh penyair dari suku yang lain, maka ia harus membalasnya. Kalau itu tidak dilakukan, tidak hanya dia yang dianggap kalah, akan tetapi sukunya pun ikut merasa dan dianggap kalah dan terhinakan.

Mereka berkepercayaan bahwa para penyair dan juga tukang tenung adalah tipe orang-orang yang setiap saat dapat dimasuki kekuatan supranatural yang tak terlihat yang memberikan inspirasi kepada mereka. Kekuatan supranatural ini biasa disebut dengan jin. Jadi, syi'ir yang dibuat oleh para penyair pada waktu itu adalah hasil komunikasi dengan kekuatan supranatural itu, yang diyakini mereka melayang-layang di udara. Demikian juga kata-kata yang keluar dari tukang tenung yang dipercaya sebagai orang yang bisa meramal, adalah juga kata-kata yang berasal dari jin yang memberikan informasi kepadanya.

Bukan Kata Penyair

Masih menurut pandangan mereka, jin tidak merasuk kepada sembarang orang, tetapi memilih orang-orang tertentu yang disukainya. Apabila orang yang disukai itu ditemukan, jin tersebut merasuk ke dalam diri orang tersebut dan menjadikan orang tersebut sebagai penyambung lidahnya. Orang seperti inilah yang dimaksud dengan "penyair" dalam pengertian semantik yang paling awal, yakni orang yang mempunyai pengetahuan supranatural. Kata sya'ir sendiri yang berasal dari kata sya'ara atau sya'ura artinya adalah memiliki pengetahuan tentang sesuatu yang tidak diketahui oleh orang kebanyakan.

Dalam pandangan masyarakat Arab Pagan, setiap penyair mempunyai jin sendiri-sendiri dan dianggap sebagai teman akrab. Makanya, ketika seorang penyair tidak mampu mengucapkan syi'ir balasan ketika mendapat serangan dari penyair lain, ia akan mengatakan bahwa yang menyebabkannya tidak mampu bukanlah kebodohannya, akan tetapi karena "teman akrab"nya tidak mengucapkan kata-kata kepadanya.

Jadi, yang dimaksud dengan majnun sebagaimana dituduhkan oleh penentang-penentang Nabi Muhammad SAW adalah "kerasukan jin atau kesurupan", bukan "gila" seperti yang dipahami oleh sebagian besar umat Islam, termasuk juga para ulama dan mufasirnya. Walaupun berdasarkan fakta Nabi Muhammad SAW memang bukanlah seorang yang gila, akan tetapi maksud alquran bukan itu, karena lepas dari konteks yang sebenarnya. Terjemahan Alquran oleh Departemen Agama RI, dalam hal ini, nampaknya cukup layak ditinjau kembali karena masih mengartikan majnun dalam beberapa ayat dengan "gila".

Dalam hal ini, kesalahan penentang-penentang Nabi Muhammad kala itu, minimal ada dua. Pertama, mereka tidak mampu membedakan alias menyamakan antara Tuhan sebagai Dzat Yang Maha Tinggi dengan jin, padahal jin adalah makhluk ciptaan-Nya. Kesalahan kedua adalah konsekuensi dari kesalahan pertama, yakni mereka menyamakan antara utusan Tuhan (rasul) yang mendapatkan inspirasi dari Tuhan dan penyair-penyair kebanyakan yang mendapatkan inspirasi dari jin.

Kerangka pikir seperti inilah yang dapat mengantarkan pada pemahaman bahwa tidak ada masalah jika Alquran dikatakan sebagai (berirama) puisi (syair yang dikembangkan dan diperhalus ke dalam bentuk seni), karena kenyataannya memang demikian. Akan tetapi yang penting dan harus dicatat bahwa Alquran bukan kata-kata seorang penyair yang dirasuki jin seperti konsepsi masyarakat Arab Pagan.(33)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar