Minggu, 12 Desember 2010

Ambiguitas Karekteristik Manusia Menurut al-Qur`ân


            Dalam rangka menjelaskan keambiguan manusia, kiranya paparan al-Qur`ân tentang hal tersebut patut untuk dikemukakan. Ada tiga kata (istilah) yang digunakan al-Qur`ân untuk menunjuk kepada konsep manusia, yaitu: 
  1. Menggunakan kata yang terdiri dari huruf alif, nun, dan sin semacam insân, ins, atau unas.
  2. Menggunakan kata basyar.
  3. Menggunakan kata Bani Adam, dan dzuriyat Adam.
            Kata basyar terambil dari akar kata yang pada mulanya berarti ‘penampakan sesuatu dengan baik dan indah’. Dari akar kata yang sama lahir kata basyarah yang berarti ‘kulit’. Manusia dinamai basyar karena kulitnya tampak jelas, dan berbeda dengan kulit binatang yang lain.
            Al-Qur`ân menggunakan kata basyar ini sebanyak 36 kali dalam bentuk tunggal dan sekali dalam bentuk mutsanna (dual) untuk menunjuk manusia dari sudut lahiriyahnya serta persamaannya dengan manusia seluruhnya. Karena itu Nabi Muhammad saw, diperintahkan untuk menyampaikan bahwa beliau adalah manusia (basyar) yang diberi wahyu.[1] Dari sisi lain, jika diamati banyak ayat-ayat al-Qur`ân yang menggunakan kata basyar yang mengisyaratkan bahwa proses kejadian manusia (sebagai basyar), melalui tahap-tahap sehingga mencapai tahap kedewasaan.[2]
Bertebaran, seperti dalam Q.S. Ar-Rûm: 20, bisa diartikan berkembang biak akibat hubungan seks atau bertebaran mencari rezeki. Kedua hal ini tidak dilakukan oleh manusia kecuali oleh orang yang memiliki kedewasaan dan tanggung jawab. Karena itu pula Maryam a.s. mengungkapkan keheranannya dapat memperoleh anak, padahal dia belum pernah disentuh oleh basyar (manusia dewasa yang mampu berhubungan seks).[3] Kata basyarihunna yang digunakan oleh al-Qur`ân sebanyak dua kali[4] juga diartikan dengan hubungan seks. Dalam kondisi itulah terlihat basyar dikaitkan dengan kedewasaan dalam kehidupan manusia, yang menjadikannya mampu memikul tanggung jawab. Dan karena itu pula, tugas kekhalifahan dibebankan kepada basyar.[5] yang satu, Q.S. Al-Hijr: 28 menggunakan kata basyar dan Q.S. Al-Baqarah: 30 menggunakan kata khalifah, keduanya mengandung pemberitaan Allâh kepada malaikat tentang manusia.
Basyar yang dalam al-Qur`ân disebut sebanyak 27 kali[6], memberikan referensi pada manusia sebagai mahluk biologis.[7] Sebagai mahluk biologis, manusia dapat dilihat dari perkataan Maryam kepada Allah,[8] Nabi Muhammmad Saw disuruh Allâh menegaskan bahwa secara biologis, ia seperti manusia lain,[9] Orang-orang yang menentang Nabi atau orang kafir yang menyatakan bahwa seorang nabi dan rasul adalah mnusia (basyar).[10] Demikian juga pernyataan kekaguman para istri pembesar kerjaan Mesir ketika melihat ketampanan Yûsuf a.s.[11] Konsep basyar selalu dihubungkan dengan sifat-sifat biologis manusia, seperti makan, minum, seks, dan berjalan di pasar.
            Adapun kata insân terambil dari kata uns dilihat dari derivasinya mengambil beberapa pengertian. Pertama, anasa yang berarti melihat, mengetahui dan meminta izin. Makna ini menunjuk pada kemampuan manusia sebagai mahluk yang memiliki nalar dan beradab. Kedua, nasiya yang berarti lupa. Makna ini menunjuk pada manusia sebagai mahluk yang memiliki kesadaran dan ketiga, al-uns yang berarti jinak, harmonis dan tampak.[12] Pendapat di atas, jika ditinjau dari sudut pandang al-Qurân, lebih tepat yang berpendapat bahwa ia terambil dari kata nasiya (lupa) atau nasâ-yanûsu (berguncang). Kitab Suci al-Qur`ân, seperti tulis Bint al-Syâthî` dalam al-Qur`ân wa Qadhâyâ al-Insân, seringkali memperhadapkan insân dengan jin/jan. Jin adalah mahluk halus yang tidak tampak, sedangkan manusia adalah mahluk yang nyata lagi ramah. Kata insân, digunakan al-Qur`ân untuk menunjuk kepada manusia dengan seluruh totalitasnya, jiwa dan raga. Manusia yang berbeda antara seseorang dengan yang lain, akibat perbedaan fisik, mental, dan kecerdasan. Artikel Jalaluddin Rakhmat yang berjudul “Konsep-Konsep Antropologis”, mengatakan bahwa dalam al-Qur`ân terdapat tiga istilah kunci yang mengacu pada makna pokok manusia, yaitu basyar, insân dan al-nâs.
Kata insân yang dalam al-Qur`ân disebut sebanyak 65 kali[13], dapat dikelompokkan ke dalam tiga kelompok. Pertama, insân yang dihubungkan dengan konsep manusia sabagai khalifah atau pemikul amanah. Kedua, insân dihubungkan dengan predisposisi negatif manusia. Ketiga, insân dihubungkan dengan proses penciptaan manusia. Semua konteks insân menunjuk pada sifat-sifat psikologis atau sprtitual. Pada kategori pertama, manusia digambarkan sebagai wujud mahluk istimewa yang berbeda dengan hewan. Oleh karena itu, dalam al-Qurân dikatakan bahwa insân adalah mahluk yang diberi ilmu,[14] mahluk yang diberi kemampuan untuk mengembangkan ilmu dan daya nalarnya dengan nazhar (merenungkan, memikirkan, menganalisa, dan mengamati) perbuatannya.[15] Proses terbentuknya makanan dari air hujan hingga terbentuknya buah-buahan dikaitkan dengan penyebutan insân.[16] Dalam hubungan inilah, Tuhan menjelaskan sifat insân yang tidak stabil.[17]
            Selanjutnya manusia dikatakan sebagai mahluk yang memikul amanah.[18] Karena manusia adalah mahluk yang menanggung amanah, maka insân dalam al-Qur`ân dihubungkan dengan konsep tanggung jawab.[19] Ia (insân) diberi keharuskan berbuat baik,[20] amalnya dicatat dengan cermat untuk diberi balasan sesuai dengan kerjanya.[21] Oleh karena itu, insân-lah yang dimusuhi setan.[22]
            Dalam menyembah Allâh, insân sangat dipengaruhi oleh lingkungannya. Apabila ditimpa musibah, insân cenderung menyembah Allâh dengan ikhlas, sedangkan apabila mendapat keberuntungan, insân cenderung sombong, takabur, dan bahkan musyrik.[23] Dalam kategori yang kedua, insân dihubungkan dengan predisposisi negatif manusia. Menurut al-Qur`ân, manusia cenderung zalim dan kafir,[24] tergesa-gesa,[25] bakhil,[26] bodoh,[27] banyak membantah dan mendebat,[28] gelisah dan enggan membantu,[29] ditakdirkan untuk bersusah payah dan menderita,[30] tidak berterima kasih,[31] berbuat dosa,[32] dan meragukan hari Kiamat.[33] Apabila dihubungkan dengan kategori pertama, sebagai mahluk spritual, insân menjadi mahluk paradoksal yang berjuang menghadapi konflik dua kekuatan yang saling bertentangan, yaitu kekuatan mengikuti fitrah (memikul amanat Allâh) dan kekuatan mengikuti predisposisi negatif. Kedua kekuatan ini digambarkan dalam kategori yang ketiga.
            Kategori yang ketiga adalah insân dihubungkan dengan proses penciptaannya. Sebagai insân, manusia diciptakan dari tanah liat, saripati tanah, dan tanah.[34] Demikian juga basyar berasal dari tanah liat, tanah,[35] dan air,[36] Hal ini mendorong Jalaluddin Rakhmat untuk berkesimpulan bahwa proses penciptaan manusia menggambarkan secara simbolis karakteristik basyari dan karakteristik insani. Yang pertama, unsur material, dan yang kedua unsur ruhani. Yang pertama unsur basyari, yang kedua unsur insani. Keduanya harus tergabung dalam keseimbangan, tidak boleh mengurangi hak yang satu atau melebihkan hak yang lainnya.
            Konsep kunci yang ketiga adalah al-nâs yang mengacu pada manusia sebagai mahluk sosial. Ia disebut dalam al-Qur`ân sebanyak 241 kali.[37] Sebagai mahluk sosial, al-nâs dapat kita lihat dalam beberapa segi. Pertama, banyak ayat yang menunjukkan kelompok sosial dengan karakteristiknya. Ayat-ayat ini lazimnya dikenal dengan ungkapan wa min al-nâs (dan diantara sebagian manusia). Dengan memperhatikan ungkapan tersebut, dalam al-Qur`ân ditemukan kelompok manusia yang menyatakan beriman tetapi sebetulnya tidak beriman,[38] yang mengambil sekutu terhadap Allâh,[39] yang hanya memikirkan kehidupan dunia,[40] yang mempesonakan orang dalam pembicaraan tentang kehidupan dunia tetapi memusuhi kebenaran,[41] yang berdebat dengan Allâh tanpa ilmu dan petunjuk dalam al-Kitâb,[42] yang menyembah Allâh dengan iman yang lemah,[43] yang menjual pembicaraan yang menyesatkan,[44] meskipun ada sebagian orang yang rela mengorbankan dirnya untuk mencari keridhaan Allâh.
            Kedua, dengan memperhatikan ungkapan aktsar al-nâs, Jalaluddin Rakhmat menyimpulkan bahwa sebagian besar manusia mempunyai kualitas rendah, baik dari segi ilmu maupun iman. Menurut al-Qur`ân, sebagian manusia tidak berilmu,[45] tidak bersyukur,[46] tidak beriman,[47] fasiq,[48] melalaikan ayat-ayat Allâh,[49] kafir,[50] dan kebanyakan harus menanggung azab.[51] Ayat-ayat ini dipertegas dengan ayat-ayat yang menunjukkan sedikitnya kelompok manusia yang beriman,[52] yang berilmu atau yang dapat mengambil pelajaran,[53] yang bersyukur,[54] yang selamat dari siksa Allâh,[55] dan yang tidak diperdayakan setan.[56] Ketiga, al-Qur`ân menegaskan bahwa petunjuk al-Qur`ân bukan hanya dimaksudkan kepada manusia sebagai perorangan, tetapi juga manusia secara sosial. Konsep manusia yng dinyatakan dengan al-nâs sering dihubungkan dengan petunjuk atau al-Kitâb.[57]
            Setelah uraian yang cukup panjang untuk ukuran sebuah artikel, Jalaluddin Rakhmat menjelaskan bahwa manusia dalam artian basyar berkaitan dengan unsur material dimana dalam konteks ini manusia sepadan dengan matahari, hewan, dan tumbuhan. Dengan sendirinya, ia musayyar (tunduk kepada takdir Allâh). Sedangkan manusia dalam artian insân dan al-nâs, bertalian dengan unsur hembusan Ilahi. Ia dikenai aturan-aturan tetapi diberikan kekuatan untuk tunduk dan melepaskan diri darinya, dengan sendirinya ia mukkhayyar (diberi kebebasan dalam memilih).
            Selanjutnya, ia menjelaskan dua komponen yang membedakan hakikat manusia dengan hewan, yaitu potensi untuk mengembangkan iman dan petensi untuk mengembangkan ilmu. Usaha untuk mengembangkan keduanya disebut amal shaleh. Oleh karena itu, Jalaluddin Rakhmat berkesimpulan bahwa iman dan ilmu adalah dasar yang membedakan manusia dari mahluk lainnya. Meskipun demikian, dalam al-Qur`ân sudah digariskan bahwa jumlah manusia yang mampu mengembangkan iman dan ilmu sekaligus sangatlah sedikit. Singkatnya, kedudukan manusia adalah sebagai mahluk individu dan mahluk spritual; mahluk biologis dan mahluk psikologis (spiritual). Manusia adalah gabungan antar unsur material (basyar) dan unsur rohani. Dari segi hubungannya dengan Tuhan, kedudukan manusia adalah sebagai hamba (mahluk) dan kedudukan manusia dalam konteks mahluk Tuhan adalah mahluk yang terbaik (fî ahsan taqwîm).[58]



[1] Q.S. Al-Kahfi: 110.
[2] Q.S. Ar-Rûm: 20.
[3] Q.S. Âli ‘Imrân: 47.
[4] Q.S. Al-Baqarah: 187.
[5] Q.S. Al-Hijr: 28 dan Q.S. Al-Baqarah: 30.
[6] ‘Abd al-Bâqî, Muhammad Fua`d, al-Mu’jam al-Mufahras li`alfâzh al-Qur`ân, Beirut: Mu`assasah al-`A’lamî al-Mathbû’ât, cet. I, 1999, h. 132, dalam entri bâ-Syâ-râ – bâ-shâ-râ.
[7] Q.S. Âli ‘Imrân: 47, Q.S. Al-Kahfi: 110, Q.S. Al-Fushillat: 6, Q.S. Al-Furqân: 7 dan Q.S. Yûsuf: 31.
[8] Q.S. Âli ‘Imrân: 47.
[9] Q.S. Al-Kahfi: 110 dan Q.S. Al-Fushillat: 6.
[10] Q.S. Al-Ahzâb: 33. Pernyataan ini dipertegas dalam Q.S. Al-Furqân: 7 dan Q.S. Al-Furqân: 20
[11] Q.S. Yûsuf: 31.
[12] Abdul Ghafur, Waryono, Tafsir Sosial: Mendialogkan Teks dengan Konteks, Yogyakarta: eLSAQ, cet. I, 2005, h. 11.
[13] ‘Abd al-Bâqî, Muhammad Fua`d. op. cit. h. 105- 106, dalam entri alif-nûn-sâ – alif-hâ-lâ.
[14] Q.S. Al-‘Alaq, 96: 4-5.
[15] Q.S. An-Nâzi’ât, 79: 35.
[16] Q.S. ‘Abasa, 20:24-36.
[17] Q.S. Al-Fushilat, 41: 53.
[18] Q.S. Al-`Ahzâb: 72.
[19] Q.S. Al-Qiyamah: 3 & 36, dan Q. S. Qâf: 16.
[20] Q.S. Al-‘Ankabût: 8.
[21] Q.S. An-Najm: 39.
[22] Q.S. Al-Isrâ`: 53.
[23] Q.S. Yûnus: 12.
[24] Q.S. Ibrâhîm: 34.
[25] Q.S. Al-Isrâ`: 67.
[26] Q.S. Al-Isrâ`:100.
[27] Q.S. Al-`Ahzâh: 72.
[28] Q.S. Al-Kahfi: 54.
[29] Q.S. Al-Mâ’arij: 19.
[30] Q.S. Al-Insyiqâq: 6.
[31] Q.S. Al-‘Âdiyât: 6.
[32] Q.S. Al-‘Alaq, 96: 6.
[33] Q.S. Maryam: 66.
[34] Q.S. Al-Hijr: 26, Q.S. Ar-Rahmân: 14, Q.S. Al-Mu`minûn: 12 dan Q.S. As-Sajdah: 7.
[35] Q.S. Al-Hijr, 15: 28, Q.S. Shâd: 71, dan Q.S. Ar-Rûm: 20.
[36] Q.S. Al-Furqân,: 54.
[37] ‘Abd al-Bâqî, Muhammad Fua`d. op. cit. h. 731-734, dalam entri nûn-wâ-râ – nûn-wâ-sâ dan nûn-wâ-sâ – nûn-wâ-qâf.
[38] Q.S. Al-Baqarah: 8.
[39] Q.S. Al-Baqarah: 165.
[40] Q.S. Al-Baqarah: 200.
[41] Q.S. Al-Baqarah: 204.
[42] Q.S. Al-Hajj: 3 & 8, Q.S. Luqmân: 10.
[43] Q.S. Al-Hajj: 11, Q.S. Al-‘Ankabût: 10.
[44] Q.S. Luqmân: 6.
[45] Q.S. Al-‘Arâf: 187, Q.S. Yûsuf: 21, dan Q.S. Al-Qashash: 68.
[46] Q.S. Al-Mu`minûn: 61.
[47] Q.S. Hûd: 17.
[48] Q.S. Al-Mâi`dah: 49.
[49] Q.S. Yûnus: 92.
[50] Q.S. Al-Isrâ`: 89.
[51] Q.S. Al-Hajj: 18.
[52] Q.S. An-Nisâ`: 66.
[53] Q.S. Al-Kahfi: 22.
[54] Q.S. Sabâ`: 13.
[55] Q.S. Hûd: 116.
[56] Q.S. An-Nisâ`: 83.
[57] Q.S. Al-Hadîd: 25
[58] Q.S. Al-Tîn: 4.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar