Senin, 13 Desember 2010

MEMBACA FENOMENA AGAMA DALAM PERSPEKTIF SOSIAL


Dalam kurun waktu yang sangat panjang, kehadiran agama telah menginspirasi jutaan umat manusia untuk berkreativitas dalam segala aspek kehidupannya. Ketika pertama kali muncul, agama diyakini mampu untuk dijadikan sebagai sumber primordial dan prinsipil untuk mengentas-tuntaskan pelnagai problem manusia sepanjang sejarahnya. Agama, pada waktu itu bisa diterjemahkan sebagai 'penjelmaan kehendak Tuhan yang diturunkan – dengan segala ajaran dan atributmya – untuk menyapa manusia dalam usahanya membimbing menuju kehidupan yang paripurna, baik dalam segi dunia-ukhrawi maupun mental-psikologis dan fisik-indrawi'. Semangat agama yang begitu dahsyat, telah berhasil menghasilkan dan menciptakan peradaban-peradaban yang sangat fenomenal. Tak salah jika dikatakan bahwa agama telah sukses dengan 'programnya' dalam membimbing manusia ke arah humasisasi peradaban.
            Islam, misalnya, dengan pelbagai ajaran dan sistemnya telah berhasil menciptakan jutaan kreativitas yang sangat besar. Mulai dari awal kelahirannya yang sangat fenomenal, Islam telah memberikan kontribusi bagi peradaban yang dibangun oleh pemeluknya dalam menciptakan tatanan yang egaliter dan populis. Perkembangan yang sangat cepat dari kehadiran Islam telah mencengangkan peradaban-peradaban yang lahir sebelumnya. Meskpun demikian, agama memiliki historitasnya sendiri. Dalam perjalannnya, agama mengalami kontaminasi dan distorsi yang diakibatkan oleh beragam interpretasi pemeluknya.
            Sebagai sebuah agama yang besar, Islam – dengan Alquran dan Hadis sebagai azas fundamentalnya – juga mengalami hal yang sama. Islam yang lahir pada abad ke-7, pada hari ini mengalami krisis krusial sebagai akibat dari multi interpretasi pemeluknya. Ajaran dan sistem Islam yang pertama kali dihadirkan mengalami perubahan yang signifikan sebagai akibat dari world view pemeluknya yang kerap berbeda dalam menginterpretasi, memaknai dan memahami kandungannya.
Salah satu adigium agama Islam adalah shalih li kulli zaman wa makan (sesuai dalam setiap waktu dan tempat). Adigium ini selalu dilekatkan dengan adigium yang lain, yaitu al-Islamu ya'lu wa yu'la 'alaihi (Islam itu tinggi dan tak ada yang menandinginya). Kedua adigium ini memang bersifat komplementer (saling melengkapi). Hanya saja kedua adigium ini terasa 'jengah' kedengarannya bila diteriakan dan dikumandangan hari ini. Pertanyaan yang bisa dimunculkan adalah; 'kejengahan' apa yang ditimbulkan dari adigium itu hari ini?
A. Islam dalam Dilema Masyarakat Kontemporer
            Ditengah arus globalisasi informasi dan teknologi, keberadaan Islam – sebagai agama rahmatan lil 'alamin – tengah diuji dalam aplikasi dan realitas empiriknya. Derasnya globalisasi informasi dan teknologi dalam satu sisi telah memberikan kontribusi real bagi umat manusia dalam mengakses pelbagai hal secara instant, tetapi dalam sisi yang lain, kehadirannya mampu menggerus aspek-aspek keyakinan dan keimanan batiniah pemeluknya. Kehadiran globalisasi yang begitu cepat – melintasi pikiran manusia – juga telah mampu memporak-porandakan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara, bahkan juga sampai tatanan keluarga.
            Islam pada dasarnya telah memberikan konsep – menurut sebagian besar pemeluknya – yang sangat komprehensif dalam semua aspek kehidupan. Islam, sebagai agama penyempurna agama-agama yang telah diturunkan sebelumnya, terbagai menjadi 4 kutub yang terintegrasi secara koheren, yaitu: aqidah, syari'ah, ahlak dan muamalah. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar