Senin, 13 Desember 2010

Konsep Ilmu dan Teknologi Perspektif al-Qur`ân


Pandangan al-Quran tentang ilmu dan teknologi dapat diketahui prinsip-prinsipnya dari analisis wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad saw.
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ(1)خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ(2)اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ(3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ(4)عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ(5)
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajarkan manusia dengan perantaraan kalam, mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq, 96: 1-5)
Iqra’  terambil dari akar kata yang berarti menghimpun. Dari menghimpun lahir aneka makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri secuatu, dan membaca baik teks tertulis maupun tidak. Apabila huruf atau kata dirangkaikan, kemudian rangkaian tersebut diucapkan maka hal itu berarti telah menghimpunkan atau dalam bahasa al-Quran qara’tahu qira’atan (قرأته قراءة). Arti asal kata ini menunjukkan bahwa iqra yang diterjemahkan dengan “bacalah!”, tidak mengharuskan adanya suatu teks tertulis sebagai objek baca, tidak pula harus diucapkan sehingga terdengar oleh orang lain.
            Al-Quran secara dini menggarisbawahi pentingnya ‘membaca’ serta keharusan adanya keikhlasan dalam melakukannya, bahkan dalam setiap aktivitas.  Seperti yang diungkapkan Abdul Halim Mahmud (mantan Syaikh Al-Azhar Mesir) dalam bukunya Al-Quran fi Syahr al-Quran bahwa dengan kalimat iqra bismi rabbik, al-Quran tidak sekedar memerintahkan untuk membaca. Tetapi ‘membaca’ adalah lambang dari segala yang dilakukan oleh manusia, baik yang sifatnya aktif maupun pasif. Kalimat tersebut dalam pengertian dan jiwanya ingin menyatakan “Bacalah demi Tuhanmu, bergeraklah demi Tuhanmu, bekerjalah demi Tuhanmu.” Demikian juga, apabila anda berhenti bergerak atau berhenti melakukan suatu aktivitas, maka hendaklah didasarkan pada bismi rabbik. Sehingga pada akhirnya ayat tersebut berarti “Jadikanlah seluruh kehidupanmu, wujudmu, dalam cara dan tujuannya, kesemuanya demi Allah”. Dengan demikian wahyu pertama itu tidak menjelaskan apa yang harus dibaca, karena al-Quran menghendaki umatnya membaca apa saja selama bacaan tersebut bismi rabbik, dalam arti bermanfaat untuk kemanusiaan. Iqra berarti bacalah, telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu; bacalah alam, tanda-tanda zaman, sejarah, maupun diri sendiri, yang tertulis maupun yang tidak. Alhasil, objek perintah iqra mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkaunya.
Pengulangan perintah membaca dalam wahyu pertama ini bukan sekadar menunjukkan bahwa kecakapan membaca tidak akan diperoleh kecuali mengulang-ulang bacaan atau membaca hendaknya dilakukan sampai mencapai batas maksimal kemampuan. Tetapi hal itu untuk mengisyaratkan bahwa mengulang-ulang bacaan bismi Rabbik (demi Allah) akan menghasilkan pengetahuan dan wawasan baru, walaupun dibaca masih itu-itu juga. Demikian pesan yang dikandung iqro’wa rabbukal akram (Bacalah dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah). Berkenaan dengan ayat di atas, Ahmad Baiquni mengatakan bahwa perintah ‘bacalah’ tersebut  adalah penelitian mengenai rincian petunjuk-Nya dengan mengamati alam dan fenomena yang terjadi di alam semesta, dan hal ini tentunya telah menyebabkan berkembangnya ilmu pengetahuan.
Selanjutnya, dari wahyu pertama Al-Qur’an diperoleh isyarat bahwa ada dua cara perolehan dan pengembangan ilmu, yaitu Allah mengajarkan manusia lain  sebelumnya, dan mengajarkan manusia (tanpa pena) yang belum diketahuinya. Cara pertama adalah mengajar dengan alat atau atas dasar usaha manusia. Cara kedua dengan mengajar tanpa alat dan tanpa usaha manusia. Walaupun berbeda, keduanya berasal dari satu sumber, yaitu Allah Swt. Setiap pengetahuan memiliki subjek dan objek. Secara umum subjek dituntut peranannya untuk memahami objek. Namun pengalaman ilmiah menunjukan bahwa objek terkadang memperkenalkan diri kepada subjek tanpa usaha sang subjek. Misalnya komet Halley yang memasuki cakrawala hanya sejenak setiap 76 tahun. Pada kasus ini walaupun para astronom menyiapkan diri dengan peralatan mutakhirnya untuk mengamati dan mengenalnya, sesungguhnya yang lebih berperan adalah kehadiran komet itu dalam memperkenalkan diri. Wahyu, ilham, intuisi, firasat yang diperoleh manusia yang siap dan suci jiwanya, atau apa yang diduga sebagai “kebetulan” yang dialami oleh ilmuwan yang tekun, semua tidak lain  kecuali bentuk-bentuk pengajaran Allah yang dapat dianalogikan dengan kasus komet di atas. Itulah pengajaran tanpa qalam yang ditegaskan oleh wahyu pertama Al-Quran tersebut.          
            Yusuf Qardhawy juga mengatakan bahwa ayat al-Quran diatas diturunkan ke hati Rasulullah Saw menunjuk pada keutamaan ilmu pengetahuan, yaitu dengan memerintahkannya membaca, sebagai kunci ilmu pengetahuan, dan menyebut qalam, alat transformasi ilmu pengetahuan. Dalam ayat itu juga Allah menyebut nikmat-Nya dengan mengajarkan manusia apa yang ia tidak ketahui. Hal itu menunjukkan akan kemuliaan belajar dan ilmu pengetahuan.
            Allah SWT memulai surat dengan memerintahkan untuk membaca yang timbul dari sifat tahu. Lalu, menyebutkan penciptaan manusia secara khusus dan umum. Allah SWT mengkhususkan manusia dari sekian makhluk-makhluk-Nya, dengan keajaiban-keajaiban yang Allah letakkan dalam dirinya, ayat-ayat-Nya yang menunjukkan akan sifat rububiyah dan kekuasaan-Nya, ilmu dan hikmah-Nya, serta kesempurnaan rahmat-Nya. Tidak ada tuhan selain Dia dan tidak ada Rabb selain-Nya. Allah menyebutkan di sini proses penciptaan manusia dari ‘alaq ‘segumpal daging’. Namum, ‘alaq adalah permulaan proses transformasi nutfah. Nutfah adalah permulaan titik penciptaan manusia. Kemudian Allah SWT kembali menegaskan bahwa Dia adalah al-akram ‘Maha Pemurah’ yang merupakan bentuk isim tafdhil (bersifat paling), yang bermakna ‘banyak memberi kebaikan’. Tidak ada seorang pun yang menandingi Allah dalam kedermawanan, karena seluruh kebaikan berada dalam kekuasaan-Nya dan datang dari-Nya. Selanjutnya Allah SWT menyebut bagaimana Dia mengajarkan manusia, secara umum dan secara khusus, “Yang mengajarkan dengan kalam, ini termasuk di dalamnya mengajarkan manusia dan malaikat. Dilanjutkan dengan pengajaran manusia secara khusus, “Mengajarkan manusia apa yang dia tidak diketahui.” Redaksi ini juga berarti bahwa Dia adalah pencipta seluruh maujud dengan segala bagiannya.
            Kemudian, wujud terbagi menjadi empat tingkat: pertama, tingkatan luar, ditunjukkan dengan firman Allah khalaqa. Kedua, yang berada dalam pikiran, ditunjukkan dengan firman Allah ‘allamal insaana maa lam ya’lam. Tingkat ketiga dan keempat adalah lafal dan tulisan. Maka, kata-kata tersebut mengandung seluruh tingkatan wujud Allah-lah yang menciptakan dan mengajarkannya. Allah SWT pencipta yang memberikan pengajaran. Apa yang tidak ada menjadi ada karena penciptaan Alllah SWT. Seluruh ilmu didalam otak didapatkan dengan pengajaran Allah SWT. Seluruh lafal dalam lisan dan tulisan adalah dengan kekuasaan, penciptaan dan pengajaran-Nya. Ini adalah tanda-tanda kekuasaan dan bukti kebijaksaan-Nya. Maksudnya adalah Allah berkenalan dengan hamba-Nya dengan apa yang Dia ajarkan kepada mereka dengan kebijaksaan-Nya, melalui tulisan, lafal, dan makna. Ilmu adalah salah satu tanda yang paling jelas dan agung yang menunjukkan manusia menuju Allah SWT.                                               
Ilmu
            Kata ilmu dengan berbagai bentuknya terulang 854 kali dalam Al-Quran. Kata ini digunakan dalam arti proses pencapaian pengetahuan dan objek pengetahuan. ‘ilm dari segi bahasa berarti kejelasan, karena itu segala yang terbentuk dari akar katanya mempunyai ciri kejelasan. Perhatikan misalnya kata ‘alam (bendera), ‘ulmat (bibir sumbing), ‘a’lam (gunung-gunung ), ‘alamat (alamat), dan sebagainya. Ilmu adalah pengetahuan yang jelas tentang sesuatu. Sekalipun demikian, kata ini berkaitan dengan ‘arafa (mengetahui), a’rif (yang mengetahui), dan (pengetahuan).            Allah Swt dinamakan ‘alim, yang berkata kerja ya’lam  (Dia mengetahui), dan biasanya Al-Quran menggunakan kata itu –untuk Allah-dalam hal-hal yang diketahui-Nya, walaupun gaib, tersembunyi, atau dirahasiakan. Perhatikan objek-objek pengetahuan berikut yang nisbahkan kepada Allah ‘ya’lamu ma fi al-arham (Allah mengetahui sesuatu yang berada di dalam rahim ), ma tahmil kullu untsa (apa yang dikandung setiap betina/perempuan ), ma fi anfusikum (yang di dalam dirimu ), ma fissamawat wa ma fil ardh (yang ada di langit dan di bumi ), khainat al-‘ayun wa ma tukhfiy ash-shudur (kedipan mata dan disembunyikan dalam dada). Demikian juga ‘ilm yang disandarkan kepada manusia, semuanya mengandung makna kejelasan.
            Menurut Yusuf Qardhawy, orang yang membaca al-Quran akan mendapati materi ‘ilm terdapat dalam surah Makiyah dan Madaniyah secara seimbang dengan semua kata jadiannya. Kata kerja ta’lamun ‘kamu mengetahui’ ditujukan untuk kedua jamak, terulang sebanyak 56 kali. Ditambah tiga kali dengan redaksi fasata’lamun ‘maka kalian akan mengetahui’, sembilan kali dengan redaksi ta’lamu ‘kalian mengetahui, 85 kali dengan redaksi ya’lamun ‘mereka mengetahui’, tujuh kali dengan redaksi ya’lamu ‘mereka mengetahui, dan sekitar 47 kali terulang kata kerja allama  beserta kejadiannya. Kata sifat ‘alim, secara nakirah dan ma’rifah,  terulang sebanyak 140 kali. Dan kata ‘ilm, secara nakirah  dan ma’rifah,  terulang sebanyak 80 kali. Juga ada beberapa bentuk kata lainnya yang sering terulang. Semua pengulangan materi ini dan kata kejadiannya menunjukkan dengan pasti akan keutamaan ilmu pengetahuan dan keutaman itu amat jelas dalam pandangan al-Quran.
            Imam Raghib al-Asfahani dalam kitabnya, Mufradat Al-Quran,  berkata, “Ilmu adalah mengetahui sesuatu sesuai dengan hakikatnya. Ia terbagi dua: pertama, mengetahui inti sesuatu itu (oleh ahli logika dinamakan tashawwur). Kedua, menghukum adanya sesuatu pada sesuatu yang ada, atau menafikan sesuatu yang tidak ada (oleh ahli logika dinamakan tashdiq, maksudnya mengetahui hubungan sesuatu dengan sesuatu).” Dalam pandangan Al-Quran, ilmu adalah keistimewaan yang menjadikan manusia unggul terhadap makhluk-makhluk lain guna menjalankan fungsi kekhalifahan.  Ini tercermin dari kisah kejadian manusia pertama yang dijelaskan Al-Quran pada surat al-Baqarah (2) 31dan 32:                                                                       
وَعَلَّمَ ءَادَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ(31) قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ(32)
“Dan dia (Allah) mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) semuanya. Kemudian Dia mengemukakannya kepada para malaikat seraya berfirman, “Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar (menurut dugaanmu).” Mereka (para malaikat) menjawab, “Mahasuci Engkau tiada pengetahuan kecuali yang telah engkau ajarkan. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.”                              
            Manusia, menurut al-Quran memiliki potensi untuk meraih ilmu dan mengembangkannya dengan seizin Allah. Karena itu, bertebaran ayat yang memerintahkan manusia menempuh berbagai cara untuk mewujudkan hal tersebut. Berkali-kali pula al-Quran menunjukkan betapa tinggi kedudukan orang-orang yang berpengetahuan. Salah satu keistimewaan manusia adalah kemampuannya mengekspresikan apa yang terlintas dalam benaknya serta kemampuannya menangkap bahasa sehingga ini mengantarkannya “mengetahui”. Di sisi lain, kemampuan manusia merumuskan ide dan memberi nama bagi segala sesuatu merupakan langkah menuju terciptanya manusia berpengetahuan dan lahirnya ilmu pengetahuan.
            Menurut pandangan al-Quran –seperti yang diisyaratkan oleh wahyu pertama- ilmu terdiri atas dua macam. Pertama, ilmu yang diperoleh tanpa upaya manusia, dinamai ilm ladunni, seperti diinformasikan antara lain oleh al-Quran surat al-Kahfi, 18: 65.
فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا ءَاتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا(65)
“Lalu mereka (Musa dan muridnya) bertemu dengan seorang hamba dari hamba-hamba Kami, yang telah Kami anugerahkan kepadanya rhmat dari sisi Kami dan telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.”
            Kedua, ilmu yang diperoleh karena usaha manusia, dinamai ‘ilm kasbi. Ayat-ayat ilm kasbi jauh lebih banyak daripada yang berbicara tentang ilm ladunni. Pembagian ini disebabkan karena dalam pandangan al-Quran terdapat hal-hal yang “ada” tetapi tidak dapat diketahui melalui upaya manusia sendiri. Ada wujud yang tidak nampak sebagaimana ditegaskan berkali-kali antara lain dalam firman-Nya:

فَلَا أُقْسِمُ بِمَا تُبْصِرُونَ(38)وَمَا لَا تُبْصِرُونَ(39)
“Aku bersumpah dengan yang kamu lihat dan yang kamu tidak lihat.” (QS. Al-Haqqah, 69: 38-39)
            Dengan demikian, objek ilmu meliputi materi dan non materi, fenomena dan non fenomena, bahkan ada wujud yang jangankan dilihat, diketahui manusia pun tidak. Sehingga jelaslah bahwa pengetahuan manusia amatlah terbatas.
            Raghib Al-Asfahani juga membagi ilmu dari sisi lain, yakni menjadi ilmu teoritis dan aplikatif. Ilmu teoritis berarti ilmu yang hanya membutuhkan pengetahuan tentangnya. Jika telah diketahui berarti telah sempurna, seperti ilmu tentang keberadaan dunia. Sedangkan ilmu aplikatif adalah ilmu yang tidak sempurna tanpa dipraktikan seperti ilmu tentang ibadah, akhlak , dan lain sebagainya. Selanjutnya ar-Raghib menjelaskan, dari sudut pandang lainnya bahwa ilmu dapat pula dibagi menjadi dua bagian: ilmu rasional dan doktrinal. Ilmu rasional adalah ilmu yang didapat dengan akal dan penelitian, sedangkan ilmu doktrinal merupakan ilmu yang didapatkan dengan pemberitaan wahyu dan nabi.
Objek Ilmu dan Cara Memperolehnya
            Ilmu yang diisyaratkan al-Quran dalam banyak ayat, meliputi segala yang bisa menyingkap hakikat segala sesuatu serta dapat menghilangkan kabut kebodohan dan keraguan dari akal manusia. Objeknya dapat berupa alam maupun manusia, wujud maupun gaib. Demikian pula metode pengetahuannya bisa berupa indera dan empiris maupun akal dan burhan, bahkan berupa wahyu dan kenabian. Oleh itu tidak benar apa yang diyakini ilmuwan Barat bahwa ilmu terbatas pada yang didasarkan atas pengamatan dan eksperimen saja. Begitupun tidak dibenarkan pandangan sebagian umat Islam yang menyatakan bahwa konsep ‘ilmu’ dalam al-Quran hanya meliputi ilmu agama an sich, tidak ada ilmu lainnya. Anehnya, dan sangat disayangkan, sebagian ulama berusaha keras mempertahankan syubhat ini. Diantara dalil yang menunjukkan kesalahan pandangan ini adalah penggunaan kata ilmu dan derivasinya dalam al-Quran, yang merujuk pada selain ilmu agama dalam banyak tempat.
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ النُّجُومَ لِتَهْتَدُوا بِهَا فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ قَدْ فَصَّلْنَا الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ(97)
Dan Dialah Yang Menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui.” (QS. Al-An’am: 97)
            Maksud ilmu yang digunakan Allah untuk menyifati kaum itu dirinci oleh ayat-ayat lain, dan yang keterangannya datang setelah firman Allah, “Dan Dia yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk,” adalah ilmu alam yang termasuk di dalamnya ilmu falak dan yang sejenisnya.
            Contoh lainnya dapat kita lihat dalam ayat,
وَمِنْ ءَايَاتِهِ خَلْقُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ(22)
Dan diantara tanda-tanda kekuasan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” (QS. Ar-Ruum, 22)
            Ilmu yang dimaksud tersebut adalah ilmu yang bisa mengenal tanda-tanda kekuasaan Allah di jagat raya ini, baik alam luhur maupun alam bawah, serta pada rahasia keragaman bahasa dan warna kulit. Jadi, ilmu ini mencakup ilmu alam dan ilmu kemanusiaan.
Berdasarkan pembagian ilmu tadi di atas, secara garis besar objek ilmu dapat dibagi dalam dua bagian pokok, yaitu alam materi dan alam non materi. Sains mutakhir yang mengarahkan pandangan kepada alam materi, menyebabkan manusia membatasi ilmunya pada bidang tersebut. Bahkan sebagian manusia tidak mengakui adanya realitas yang tidak dapat dibuktikan di alam materi. Karena itu, objek ilmu menurut mereka hanya mencakup sains kealaman dan terapannya yang dapat berkembang secara kualitatif dan penggandaan, variasi terbatas, dan pengalihan antarbudaya. Objek ilmu menurut ilmuwan Muslim mencakup alam materi dan non materi. Karena itu, sebagian ilmuwan Muslim khususnya kaum sufi melalui ayat-ayat al-Quran –memperkenalkan ilmu yang mereka sebut al-hadharat al-Ilahiyah al-Khams (lima kehadiran Illahi) untuk menggambarkan hierarki keseluruhan realitas wujud. Kelima hal tersebut adalah alam nasut (alam materi), alam malakut (alam kejiwaan), alam jabarut (alam ruh), alam lahut (sifat-sifat Ilahiyah), dan alam hahut (wujud Zat Illahi).
            Tata cara dan sarana yang harus digunakan untuk meraih pengetahuan kelima hal tersebut diisyaratkan dalam al-Quran dengan penggunaan empat sarana yaitu pendengaran, mata (penglihatan), akal, dan hati. Sebagaimana firman-Nya:
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ(78)
“Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu beryukur (menggunakannya sesuai petunjuk Illahi untuk memperoleh pengetahuan).”  (QS. An- Nahl, 16: 78)
            Trial and error (coba-coba), pengamatan, dan tes-tes kemungkinan (probability) merupakan cara-cara yang digunakan ilmuwan untuk meraih pengetahuan. Hal itu disinggung oleh al-Quran, seperti dalam ayat-ayat yang memerintahkan manusia untuk berpikir tentang alam raya, melakukan perjalanan dan sebagainya, kendatipun hanya berkaitan dengan upaya mengetahui alam materi. Di samping mata, telinga, dan pikiran sebagai sarana meraih pengetahuan, Al-Quran pun menggarisbawahi pentingnya peranan kesucian hati. Wahyu dianugerahkan atas kehendak Allah dan berdasarkan kebijaksanaan-Nya tanpa usaha dan campur tangan manusia. Sementara firasat, intuisi dan semacamnya, dapat diraih melalui penyucian hati. Dari sini ilmuwan Muslim menekankan pentingnya tazkiyah an-nafs (penyucian jiwa) guna memperoleh hidayat (petunjuk/ pengajaran Allah), karena mereka sadar terhadap kebenaran firman Allah.
قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ
“Perhatikanlah apa yng terdapat di langit dan di bumi…” (QS. Yunus, 10: 101)
أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ(17)وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ(18)وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ(19)وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ(20)
“Apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana unta diciptakan, bagaimana langit ditinggikan, bagaimana gunung ditancapkan dan bagaimana bumi dihamparkan?” (QS. Al-Ghasiyah, 88: 17-20)
أَوَلَمْ يَرَوْا إِلَى الْأَرْضِ كَمْ أَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ كَرِيمٍ(7)
“Apakah mereka tidak memperhatikan bumi? Berapa banyak kami tumbuhkan di bumi itu aneka ragam tumbuhan yang baik?” (QS. Al-Syu’ara, 26: 7)

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ

“Apakah mereka tidak melakukan perjalanan di bumi…” (QS. Yunus,12: 109)
            Berkali-kali pula al-Quran menegaskan bahwa inna Allah la yahdi, sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada al-zhalimin (orang-orang yang berlaku aniaya), al-kafirin (orang-orang kafir), al-fasiqin (orang-orang yang fasiq), man yudhil (orang yang disesatkan), man huwa kadzibun kaffar (pembohong lagi amat ingkar), musrifun kazzab (pemboros lagi pembohong), dan lain-lain. Memang, mereka yang durhaka dapat saja memperoleh secercah ilmu Tuhan yang bersifat kasbi, tetapi yang mereka peroleh itu terbatas pada sebagian fenomena alam, bukan hakikat (nomena). Bukan pula yang berkaitan dengan realitas di luar alam materi. Dalam konteks ini al-Quran menegaskan:
وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ(6)يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ(7)
“… Tetapi banyak manusia yang tidak mengetahui. Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedangkan tentang akhirat mereka lalai.” (QS. Ar-Ruum, 30: 6-7)
            Para ilmuwan Muslim juga menggarisbawahi pentingnya mengamalkan ilmu. Dalam konteks ini ditemukan ungkapan yang dinilai oleh sementara pakar sebagai hadis Nabi,
 من عمل بما أورثه الله ما لم يعلم
 Barangsiapa mengamalkan diketahuinya maka Allah menganugerahkan kepadanya ilmu yang belum diketahuinya”.
 Dan sebagian ulama merujuk kepada al-Quran surat al-Baqarah ayat 282 untuk memperkuat kandungan hadis tersebut.
وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ(282)
“… bertakwalah kepada Allah, niscaya Dia mengajar kamu. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
            Atas dasar itu semua al-Quran memandang bahwa seseorang yang memiliki ilmu harus mempunyai sifat dan ciri tertentu pula, antara lain yang paling menonjol adalah sifat khasyat (takut dan kagum kepada Allah) sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء

“… sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah ulama…” (QS. Al Fathir, 35: 28)

            Dengan redaksi yang membatasi, menggunakan kata innamaa, ‘hanya’, berarti hanyalah ulama dari sekian hamba-Nya yang takut kepada Allah, yaitu mereka yang mengetahui keagungan-Nya dan memuliakan-Nya dengan semestinya. Orang-orang yang takut kepada Allah SWT akan mendapat ganjaran dari-Nya,
جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ(8)
“Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘And yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” (QS. Al-Bayyinah: 8)
            Dalam konteks ini, ulama adalah mereka yang memiliki pengetahuan tentang fenomena. Rasulullah saw menegaskan bahwa ilmu itu ada dua macam, ilmu di dalam dada, itulah yang bermanfaat, dan ilmu yang sekedar di ujung lidah, maka itu akan menjadi saksi yang memberatkan manusia.
Manfaat Ilmu
            Tidak ada agama selain Islam, dan tidak ada kitab suci selain al-Quran yang demikian tinggi menghargai ilmu pengetahuan, mendorong untuk mencarinya, dan memuji orang-orang yang menguasainya. Termasuk di dalamnya menjelaskan ilmu dan pengaruhnya di dunia dan akhirat, mendorong untuk belajar dan mengajar, serta meletakkan kaidah-kaidah yang pasti untuk tujuan tersebut dalam sumber-sumber Islam yang asasi: Al-Quran dan As-Sunnah.
Dari wahyu pertama, ditemukan petunjuk tentang pemanfaatan ilmu. Melalui iqra bismi rabbik,  digarisbawahkan bahwa titik tolak atau motivasi pencarian ilmu, demikian juga tujuan akhirnya haruslah karena Allah.
            Semboyan ‘ilmu untuk ilmu’ tidak dikenal dan tidak dibenarkan dalam Islam. Apa pun ilmunya, materi pembahsannya harus bismi rabbik, atau dengan kata lain harus bernilai rabbani. Sehingga ilmu yang -dalam kenyataannya dewasa ini mengikuti pendapat sebagian ahli-‘bebas nilai’, harus diberi nilai Rabbani oleh ilmuwan Muslim. Kaum Muslim harus menghindari cara berpikir tentang bidang-bidang yang tidak bermanfaat, apalagi tidak memberikan hasil kecuali menghabiskan energi. Atas dasar ini pula berpikir atau menggunakan akal untuk mengungkap rahasia alam metafisika, tidak boleh dilakukan. Artinya, hati mesti dipergunakan untuk menjelajahi alam metafisika.
            Menarik untuk dibicarakan bahwa ayat-ayat al-Quran yang berbicara tentang alam raya, menggunakan redaksi yang berlainan ketika menunjukkan manfaat yang diperoleh dari alam raya, walaupun objek atau bagian alam yang diuraikan sama.
            Perhatikan misalnya ketika al-Quran menguraikan as-samawat wal ardh. Dalam al-Quran surat al-Baqarah ayat 164 penjelasan ditutup dengan menyatakan la ayatin liqaum(in) ya’qilun (sungguh terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal). Sedangkan dalam al-Quran surat al-Imran ayat 90 ketika menguraikan persoalan yang sama diakhiri dengan la ayatin li-ulil albab (pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi Ulil Albab/ orang-orang yang memiliki saripati segala sesuatu).
            Yusuf Qardhawy mengatakan bahwa sesuatu yang amat agung dari petunjuk al-Quran, berkenaan dengan visi pemikiran dan ilmu pengetahuan, adalah bahwa al-Quran memberi penghargaan terhadap ulul-albab dan kaum cendikiawan, atau kaum intelektual. Allah memuji mereka dalam banyak ayat dalam surat-surat Makiyyah dan Madaniyyah.
            Inilah antara lain fashilat (penutup) ayat-ayat yang berbicara tentang alam raya, yang darinya dapat ditarik kesan adanya beragam tingkat dan manfaat yang harusnya dapat diraih oleh mereka yang mempelajari fenomena alam: yatafakkarun  (yang berpikir) [QS. 10: 24], ya’lamun (yang mengetahui) [QS. 10: 5], yatazakkarun (yang mengambil pelajaran) [QS. 16: 13], ya’qilun (yang memahami) [ QS. 16: 12], yasma’un (yang mendengarkan) [QS. 30: 23], yuqinun (yang meyakini) [QS. 45: 4], al-mu’minin (orang-orang yang beriman) [QS. 45: 8], al-‘alimin (orang-orang yang mengetahui) [QS. 30: 22].

Teknologi
وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ(13)
“Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir.” (QS. Al-Jatsiyah: 13)
            Ayat ini menyatakan bahwa seluruh isi langit dan bumi akan ditundukkan Al-Khaliq bagi umat manusia dengan keteknikan, yang merupakan penerapan ilmu, yang akan diberikan kepada mereka yang mau melibatkan akalnya dan menggunakan pikirannya.
            Kata-kata “Allah menundukkan” dan lain-lainnya yang semakna dengan itu, banyak ditemukan dalam al-Quran untuk menegaskan kepada manusia bahwa Allah SWT menundukkan segala ciptaan-Nya dengan peraturan-peraturan-Nya, sehingga orang dapat mengambil faedahnya sepanjang ia bertindak sesuai dengan peraturan itu. Seharusnya orang tidak menyombongkan diri dan merasa dapat menguasai dan menundukkan alam dengan teknologinya, karena Allah jualah yang menundukkannya. Apa yang ia lakukan hanyalah mengembangkan ilmu pengetahuan melalui prosedur yang sesuai dengan petunjuk-petunjuk Ilahi dalam al-Quran dan kemudian setelah mengetahui beberapa peraturan yang diletakkan oleh sang Khaliq, yang harus dipatuhi oleh semua makhluk, menerapkan sebagian dari padanya untuk menghadirkan teknologi yang dapat dipergunakan bagi pembuatan sesuatu yang bermanfaat baginya.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, teknologi diartikan sebagai ‘kemampuan teknik yang berlandaskan pengetahuan ilmu eksakta dan berdasarkan proses teknis.’ Teknologi adalah ilmu tentang cara menerapkan sains untuk memanfaatkan alam bagi kesejahteraan dan kenyamanan manusia. Kalau demikian, mesin atau alat canggih yang dipergunakan manusia bukanlah teknologi, walaupun secara umum alat-alat tersebut sering diasosiasikan sebagai teknologi. Mesin telah dipergunakan manusia sejak berabad lalu, namun abad tersebut belum dinamakan era teknologi.
            Menelusuri pandangan al-Quran tentang teknologi, mengundang sekian banyak ayat al-Quran yang berbicara tentang alam raya. Menurut sebagian ulama, terdapat sekitar 750 ayat al-Quran yang berbicara tentang alam materi dan fenomenanya, dan yang memerintahkan manusia untuk mengetahui dan memanfaatkan alam ini. Secara tegas dan berulang-ulang al-Quran menyatakan bahwa alam diciptakan dan ditundukkan Allah untuk manusia. Penundukkan tersebut –secara potensial- terlaksana melalui hukum-hukum alam yang ditetapkan Allah dan kemampuan yang dianugerahkan-Nya kepada manusia. Al-Quran menjelaskan sebagian dari ciri tersebut antara lain:
  1. Segala sesuatu di alam raya ini memiliki ciri dan hukum-hukumnya.
  2. Semua yang berada di alam raya ini tunduk kepada-Nya.
  3. Benda-benda alam-apalagi yang tidak bernyawa- tidak diberi kemampuan memilih, tetapi sepenuhnya tunduk kepada Allah melalui hukum-hukum-Nya.
Disisi lain, manusia diberi kemampuan untuk mengetahui ciri dan hukum-hukum yang berkaitan dengan alam raya. Tetapi adanya potensi itu, dan tersedianya lahan yang diciptakan Allah, serta ketidakmampuan alam raya membangkang terhadap perintah dan hukum-hukum Tuhan, menjadikan ilmuwan dapat memperoleh kepastian mengenai hukum-hukum alam. Karenanya, semua itu mengantarkan manusia berpotensi untuk memanfaatkan alam yang telah tunduk kepada Tuhan. Keberhasilan memanfaatkan alamitu merupakan buah teknologi.
Al-Quran memuji sekelompok manusia yang dinamainya ulil albab. Ciri mereka antara lain disebutkan dalam al-Imran, 3: 190-191:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَاب (190)  الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْض
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi ulil albab. Yaitu mereka yang berzikir (mengingat) Allah sambil berdiri, atau duduk atau berbaring, dan mereka yang berpikir tentang kejadian langit dan bumi…”
            Dalam ayat-ayat diatas tergambar dua ciri pokok ulil albab yaitu tafakkur dan dzikir. Kemudian keduanya menghasilkan natijah yang bukan merupakan sekedar ide-ide yang tersusun dalam benak, melainkan melampauinya sampai kepada pengamalan dan pemanfaatannya dalam kehidupan sehari-hari. Muhammad Quthb dalam bukunya Manhaj At-Tarbiyah al-Islamiyah mengomentari ayat al-Imran tersebut, bahwa ayat-ayat tersebut merupakan metode yang sempurna bagi penalaran dan pengamatan Islam terhadap alam. Ayat-ayat itu mengarahkan akal manusia kepada fungsi pertama di antara sekian banyak fungsinya, yakni mempelajari ayat-ayat Tuhan yang tersaji di alam raya ini. Ayat-ayat tersebut bermula dengan tafakur dan berakhir dengan amal.
            Lebih jauh dapat ditambahkan bahwa ‘Khalq as-amawat wal ardh’ di samping berarti membuka tabir sejarah penciptaan langit dan bumi, juga bermakna ‘memikirkan tentang sistem tata kerja alam semesta’. Karena kata khalq selain berarti penciptaan juga berarti pengaturan dan pengukuran yang cermat. Pengetahuan tentang hal terakhir ini mengantarkan ilmuwan kepada rahasia-rahasia alam, dan pada gilirannya mengantarkan kepada penciptaan teknologi yang menghasilkan kemudahan dan kemanfaatan bagi umat manusia. Jadi, dapatkah dikatakan bahwa teknologi merupakan sesuatu yang dianjurkan oleh al-Quran? Ada dua catatan yang perlu diperhatikan.
            Pertama, ketika al-Quran berbicara tentang alam raya dan fenomenanya, terlihat jelas bahwa pembicaraannya selalu dikaitkan dengan kebesaran dan kekuasaan Allah.
أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ(30)
“Apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah satu yang padu, kemudian Kami (Allah) pisahkan keduanya, dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapa mereka tidak juga beriman?” QS. Al-Anbiya, 21: 30
            Ayat ini dipahami oleh banyak ulama kontemporer sebagai isyarat tentang teori Big Bang (Ledakan Besar), yang mengawali terciptanya langit dan bumi. Para pakar boleh saja berbeda pendapat tentangnya atau mengenai proses terjadinya pemisahan langit dan bumi. Yang pasti, ketika al-Quran berbicara tentang hal itu, dikaitkannya dengan kekuasaan dan kebesaran Allah. Serta keharusan beriman kepada-Nya. Pada saat mengisyaratkan pergeseran gunung-gunung dari posisinya, sebagaimana kemudian dibuktikan para ilmuwan informasi itu dikaitkan dengan Kemahahebatan Allah SWT. Ini berarti bahwa sains dan hasil-hasilnya harus selalu mengingatkan manusia terhadap Kehadiran dan Kemahakuasaan Allah SWT, selain juga harus memberi manfaat bagi kemanusiaan, sesuai dengan prinsip bismi rabbik.
            Kedua, al-Quran sejak dini memperkenalkan istilah sakhara yang maknanya bermuara kepada kemampuan meraih-dengan mudah dan sebanyak yang dibutuhkan- segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan dari alam raya melalui keahlian di bidang teknik. Ketika al-Quran memilih kata sakhara yang arti harfiahnya menundukkan atau merendahkan, maksudnya adalah agar alam raya dengan segala manfaat yang dapat diaraih darinya harus tunduk dan dianggap sebagai sesuatu yang posisinya berada di bawah manusia karena manusia diciptakan oleh Allah sebagai khalifah. Tidaklah wajar seorang khalifah tunduk dan merendahkan diri kepada sesuatu yang ditundukkan Allah kepadanya. Jika khalifah tunduk atau ditundukkan oleh alam, maka ketundukkan itu tidak sejalan dengan maksud Allah SWT.
            Dari kedua catatan yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa teknologi dan hasil-hasilnya di samping harus mengingatkan manusia kepada Allah, juga harus mengingatkan bahwa manusia adalah khalifah yang kepadanya tunduk segala yang berada di alam raya ini. Kalaulah alat atau mesin dijadikan sebagai gambaran konkret teknologi, dapat dikatakan bahwa pada mulanya teknologi merupakan perpanjangan organ manusia. Ketika manusia menciptakan pisau sebagai alat pemotong, alat ini menjadi perpanjangan tangannya. Alat tersebut disesuaikan dengan kebutuhan dan organ manusia. Alat itu sepenuhnya tunduk kepada si pemakai, melebihi tunduknya budak belian. Kemudian teknologi berkembang dengan memadukan sekian banyak alat hingga menjadi mesin. Dari hari ke hari tercipta mesin-mesin canggih yang semakin kompleks, serta tidak lagi bisa dikendalikan oleh seseorang. Tetapi akhirnya mesin dapat mengerjakan tugas yang dulu mesti dikerjakan oleh banyak orang. Pada tahap ini, mesin telah menjadi semacam ‘seteru’ manusia, atau lawan yang harus disiasati agar mau mengikuti kehendak manusia.
            Dewasa ini lahir teknologi yang dikhawatirkan dapat menjadikan alat sebagai majikan. Bahkan mampu menciptakan bakal-bakal majikan yang akan diperbudak dan ditundukkan oleh alat. Jika begitu, ini jelas bertentangan dengan kedua catatan yang telah disebutkan. Berdasarkan petunjuk kitab sucinya, seorang Muslim dapat menerima hasil-hasil teknologi yang sumbernya netral, dan tidak menyebabkan maksiat, serta bermanfaat bagi manusia, baik mengenai hal-hal yang berkaitan dengan unsur ‘debu tanah’ maupun unsur ‘ruh Illahi’ manusia.
            Seandainya penggunaan satu teknologi telah melalaikan seseorang dari zikir dan tafakur, serta mengantarkannya kepada keruntuhan nilai-nilai kemanusiaan, maka ketika itu bukan hasil teknologinya yang ditolak, melainkan kita harus mengingatkan dan mengarahkan manusia yang menggunakan teknologi itu. Jika hasil teknologi sejak semula diduga dapat mengalihkan manusia dari jati diri dan tujuan penciptaan, sejak dini pula kehadirannya ditolak oleh Islam. Karena itu, menjadi persoalan besar bagi martabat manusia mengenai cara menadukan kemampuan mekanik demi penciptaaan teknologi, dengan pemeliharaan nilai-nilai fitrahnya. Bagaimana mengarahkan teknologi yang dapat berjalan seiring dengan nilai-nilai Rabbani, atau dengan kata lain bagaimana cara memadukan pikir, zikir, ilmu dan iman.         
Al-Quran memerintahkan manusia untuk terus berupaya meningkatkan kemampuan ilmiahnya. Jangankan manusia biasa, Rasulullah pun diperintahkan agar berusaha dan berdoa agar selalu ditambah pengetahuannya. Manusia memiliki naluri selalu haus akan pengetahuan. Rasulullah bersabda bahwa dua keinginan yang tidak pernah puas, keinginan menuntut ilmu dan keinginan menuntut harta.
            Hal ini dapat memicu manusia untuk terus mengembangkan teknologi dengan memanfaatkan anugerah Allah yang dilimpahkan kepadanya. Karena itu laju teknologi memang tidak dapat dibendung. Hanya saja manusia dapat berusaha mengarahkan diri agar tidak memperturutkan hawa nafsunya untuk mengumpulkan harta atau ilmu yang dapat membahayakan dirinya. Agar ia tidak menjadi seperti kepompong yang membahayakan dirinya sendiri karena kepandaiannya. Sebagian ulama berpendapat bahwa hukum mempelajari dasar-dasar perindustrian dan teknologi yang bermacam-macam, seperti tukang besi, tukang kayu, menenun, menjahit, dan lain-lain keahlian yang tidak bisa ditinggalkan oleh masyarakat madani merupakan keahlian yang tidak bisa ditinggalkan oleh masyarakat madani yang merupakan kewajiban atas umat.
            Pada masa sekarang, industri-industri teknologi yang memajukan peradaban modern telah merasuki semua bidang kehidupan dngan kemajuan yang mencengangkan. Manusia berhasil mempersempit jarak dan mempersingkat waktu serta menghemat tenaga. Kita selalu berbicara tentang revolusi teknologi, revolusi biologi, revolusi komunikasi. Revolusi informasi, dan lain-lain revolusi yang telah mengubah wajah kehidupan. Maka karenanya, umat Islam wajib berperan dalam revolusi-revolusi tersebut, tidak hanya menjadi penonton pada saat dunia terus bergerak. Agama mewajibkan umat untuk selalu berada di depan bukan di belakang.
            Al-Quran telah mengisyaratkan industri dan teknologi yang bermacam-macam, seperti indutri logam (besi) di bidang militer dan sipil. Hal ini diisyaratkan dalam ayat,
وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ
“…Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfat bagi manusia…” (QS. Al-Hadid: 25).

            Lafal  فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌterdapat kekuatan hebat’ mengisyaratkan industri-industri perang. Sedangkan, redaksi وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ ‘berbagai manfaat bagi manusia’ mengisyaratkan industri sipil. Allah juga telah mengajarkan pembuatan baju besi kepada Nabi Daud,
وَعَلَّمْنَاهُ صَنْعَةَ لَبُوسٍ لَكُمْ لِتُحْصِنَكُمْ مِنْ بَأْسِكُمْ
“Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu…” (QS. Al-Anbiya: 80)
وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ(10)أَنِ اعْمَلْ سَابِغَاتٍ
“…Dan Kami telah melunakkan besi untuknya, (yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar…” (QS. Saba’: 10-11)
Al-Quran juga mengisyaratkan industri pangan sebagaimana dalam ayat,
وَمِنْ ثَمَرَاتِ النَّخِيلِ وَالْأَعْنَابِ تَتَّخِذُونَ مِنْهُ سَكَرًا وَرِزْقًا حَسَنًا
“Dan dari buah kurma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik..” (QS. An-Nahl, 16: 67).
Al-Quran mengisyaratkan industri sesuatu yang bisa diambil dari hewan sebagaimana dalam ayat,
وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ سَكَنًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ جُلُودِ الْأَنْعَامِ بُيُوتًا تَسْتَخِفُّونَهَا يَوْمَ ظَعْنِكُمْ وَيَوْمَ إِقَامَتِكُمْ وَمِنْ أَصْوَافِهَا وَأَوْبَارِهَا وَأَشْعَارِهَا أَثَاثًا وَمَتَاعًا إِلَى حِينٍ(80)
“Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan membawanya di waktu kamu berjalan dan waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu unta, dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu).” (QS. An-Nahl, 16: 80).
            Al-Quran mengisyaratkan industri aksesori dan perhiasan sebagaimana dalam ayat,
وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ ابْتِغَاءَ حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِثْلُهُ
“…Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu…” (QS. Ar-Ra’d: 17).
وَتَسْتَخْرِجُوا مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا
“…dan kamu mengelurkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai…” (QS.16:14).
            Al-Quran mengisyaratkan pula industri kapal laut, sebagaimana dalam ayat,
فَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِ أَنِ اصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا
“Lalu Kami wahyukan kepadanya, ‘Buatlah bahtera di bawah penilikan dan petunjuk Kami’…” (QS. Al-Mu’minun: 27).
وَيَصْنَعُ الْفُلْكَ وَكُلَّمَا مَرَّ عَلَيْهِ مَلَأٌ مِنْ قَوْمِهِ سَخِرُوا مِنْهُ
“Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan melewati Nuh, mereka mengejeknya…” (QS. Hud: 38).
            Al-Quran mengisyaratkan teknologi konstruksi bangunan sebagaimana telah dipelajari Ibrahim dan Ismail. Keduanya telah membangun rumah pertama yang dibuat manusia sebagaimana terdapat dalam ayat,
وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail…” (QS. Al-Baqarah, 2: 127).

            Al-Quran mengisyaratkan teknologi waduk raksasa sebagaimana Dzulqarnain pernah membangunnya,
ءَاتُونِي زُبَرَ الْحَدِيدِ حَتَّى إِذَا سَاوَى بَيْنَ الصَّدَفَيْنِ قَالَ انْفُخُوا حَتَّى إِذَا جَعَلَهُ نَارًا قَالَ ءَاتُونِي أُفْرِغْ عَلَيْهِ قِطْرًا(96)
“Berilah aku potongan-potongan besi. Hingga, apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulqarnain, ‘Tiuplah (api itu).’ Hingga, apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, dia pun berkata, ‘Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atas besi panas itu.’” (QS. Al-Kahfi: 96).
Al-qithr adalah tembaga yang telah dicairkan, yang jika dicampurkan ke dalam besi maka besi itu akan bertambah keras dan kuat. Al-Quran mengisyaratkan berbagai jenis industri yang telah dikerjakan para jin untuk Nabi Sulaiman,
يَعْمَلُونَ لَهُ مَا يَشَاءُ مِنْ مَحَارِيبَ وَتَمَاثِيلَ وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُورٍ رَاسِيَاتٍ
Para jin membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-pirng yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku).” (QS. Saba: 13).
وَالشَّيَاطِينَ كُلَّ بَنَّاءٍ وَغَوَّاصٍ(37)
“Dan (Kami tundukkan pula kepadanya) setan-setan semuanya ahli bangunan dan penyelam.” (QS. Shad: 37)
            Industri dan teknologi yang dikerjakan jin tidak berarti bahwa manusia tidak mampu mengerjakannya. Dalam kisah Sulaiman kita dapatkan sebagian manusia ‘yang mempunyai ilmu dari al-Kitab’ (An-Naml: 40) mampu melakukan sesuatu yang tidak bisa dikerjakan oleh jin Ifrit. Selain yang telah disebutkan, masih banyak industri yang diisyaratkan oleh al-Quran sebagai pengembangan ilmu dan teknologi yang didapatkan manusia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar