Minggu, 12 Desember 2010

KERANGKA TULISAN GENEALOGI AGAMA



PUSARAN GENEALOGI AGAMA:
1.       Keyakinan primitif, mengakui ajaran monoteis, diyakini sebagai sebuah keyakinan paling tua di dunia ini.
2.       Keyakinan primitif menjelma menjadi agama yang bersifat  primitif, misal animisme etc. Yang awalnya bersifat individu menjadi komunal atau menjadi memiliki konsep yang jelas meskipun masih sederhana.
3.       Ketika agama primitif itu menjelma menjadi sempurna, seperti Islam, Kristen. Ternyata agama-agama tersebut selain ajaran-ajarannya terkonsepsikan secara sempurna, juga merupakan respon terhadap keadaan sosial waktu itu.

PEMAHAMAN KEAGAMAAN:
1.       Secara teologis dalam agama dan ajaran agama memiliki sisi supremasi untuk menginferiorkan agama lain, seperti Wahabi, Puritanis, Fundamentalis. Dengannya pemahaman tersebut menajdi mendapatkan legitimasinya.
2.       Penyebab pertama dari adanya femahaman keagamaan adalah persinggungan agama-agama dengan kehidupan sosial kemasyarakatan pemeluknya. Dalam hal ini agama yang diyakini sebagai penyelamat, ….. sebagai pemenuhan spiritual pemeluknya.
3.       Dalam pemahama keagamaan selalu ada semacam kekerasan antar pemeluk keyakinan agama yang berbeda. Akar kekerasan ini memang bisa ditimbulkan dari berbagai hal, misal aliran psikoanalisa bahwa, alam bawah sadar manusia yang menyebabkan kekerasan ini. Presfektif sosiologis menyatakan bahwa, dinamika kehidupan sosial manusialah yang menyebabkan kekerasan ini. Dalam pandangan naturalis marxis menyatakan bahwa kekerasan terjadi karena keharusan adanya perubahan sejarah dan ekonomi.
4.       kekerasan antar agama sebetulnya merupakan kendala/ permasalah klasik, karena dalam sejarahnya ada fakta yang bisa dibuktikan untuk menyatkan bahwa pemehaman keagamaan menjadi landasan dalam tindakan. Salahsatu yang bisa mengubah hal ini adalah dengan dialog. Meskipun hal ini, dialog tidak menjadi satu-satunya solusi. Tapi dengannya bisa tercipta suasana kehidupan keagamaan yang bervisi inklusif.
5.       Sebetulnya dalam ajaran gama yang paling hakiki, contohnya islam,  sikap menghargaio perbedaan keyakinan itu adalah hal yang dianjurkan. Bahkan secara tegas islam mengakui adanya pluralitas keagamaan. Menurut Hasan al-Basri, konsep manusia su'ub wa qobail itu adalah sikap yang paling dominan dalam kehendak Tuhan menciptakan pluralitas ini.
6.       Harus ditanamkan bahwa surga ataupun neraka bukan hanya milik satu golongan tapi yang pasti harus ada sikap-sikap yang inklusif dimana hal ini bisa dinyatakan bahwa surga dan neraka adalah milik bersama.

MEMBUMIKAN AGAMA KEMANUSIAAN:
1.       Maksud dari semuanya itu adalah untuk mengupayakan sebuah agama yang bersifat trans religion hari ini. Bagaimana agama melihat persoalan kemanusiaan sebagai persoalan bersama. Dalam konsep ini justifikasi-justifikasi yang bersifat eksklusif bisa dikesampingkan, sehingga persinggungan yang menyebabkan kekerasan simbolik, nilai, fisik bisa dihindari. Yang pada akhirnya nanti diharapkan memunculkan toleransi atau pengakuan yang bersifat permanen.
2.       Tafsir-tafsir yang bersifat membebaskan manusia, bisa dijadikan sebagai cara untuk mendekonstruksi cara keberagamaan yang bersifat eksklusif dimana dalam tafsiran ini ada dua titik penekanan yang aggak berbeda. Pertama Teks tetap dijadikan basis sebagai upaya pembebasan manusia dengan melakukan dekonstruksi terhadap tafsiran itu sehingga dapat memunculkan tafsiran yang bersifat humanis dan populis. Kedua, teks menjadi subordinat terhadap permasalah manusia, artinya permasalahn manusia bukan diselesaikan dengan teks, tetapi melalui rasionalitas dengan posisi teksnya sebagai sinaran dari cara kerja rasionalitas itu.

Prolog
                Tulisan ini akan mencoba untuk melakukan pemaparan terhadap genealogi agama dan pluralitas pemaknaan terhadapnya. Istilah genealogi dalam pandangan Foucault merupakan usaha penulisan sejarah dalam terang penglihatan dan kepedulian (concerns) masa kini. Karena sejarah merupakan pemenuhan atas sebuah kebutuhan masa kini. Asumsi tersebut  meniscayakan fakta bahwa, masa kini terus menerus berada dalam sebuah proses transformasi, sehingga hal itu berimplikasi pada masa lalu yang juga mesti terus-menerus dievaluasi ulang.[1]
                Jika ditarik ke wilayah pembahasan agama, genealogi dapat didefinisikan sebagai usaha-usaha peneropongan dan pembacaan terhadap kemunculan agama pada masa awal. Sedangkan yang menjadi titik fokus dari usaha ini adalah  pencarian dan penyelidikan tentang sumber-sumber agama, deviasi agama dan perkembangan agama. Perbincangan tentang asal-usul agama (genealogi) memang akan terus menggelinding dalam konstelasi pemikiran keagamaan. Kiranya tidak berlebihan jikalau dikatakan bahwa pembahasan-pembahasan yang telah ada atau studi-studi tentang agama – baik ilmiah atau non ilmiah – dapat dijadikan parameter betapa urgen dan menariknya pembahasan tentang kemunculan sebuah agama.

Sumber-Sumber Agama
Deviasi Agama
Perkembangan Agama
Keyakinan Primitif: Pembahasan Seputar Konsep Tuhan
Sejak mula pertama umat manusia sudah mampu untuk menangkap tentang adanya suatu kekuatan yang mengatasi dan maha kuasa.[2] Kesadaran ini merupakan komponen yang esensial dari seluruh masyarakat tradisional dari segala tingkatan.[3] Meskipun seperti dalam penjelasan Kuntowijoyo, bahwa pada fase ini manusia menggantungkan segala sesuatunya kepada alam.
Perasaan-perasaan tersebut oleh Rudolf Otto disebut dengan 'numinous'. Yaitu perasaan dan keyakinan seseorang terhadap adanya Yang Maha Kuasa yang lebih besar dan tinggi yang tidak bisa dijangkau dan dikuasai manusia. [4] Dengan demikian, manusia primitif telah memiliki konsep tentang adanya kekuatan dahsyat yang mengelilingi kehidupan mereka. Konsep yang mereka miliki, tidak seperti konsep agama-agama yang ada pada hari ini. Tetapi, mereka telah memiliki dan menganut kepercayaan akan adanya Yang Luar Biasa di Luar Dirinya, Tuhan. Tuhan, dalam konsep bangsa primitif adalah merupakan hasil pergulatan mereka dengan kepercayaan terhadap benda-benda yang dipercayai memiliki daya magis tertentu.
Yang pada akhirnya melahirkan cerita-cerita simbolis, lukisan-lukisan dan ukiran-ukiran gua yang mencoba menceritakan keajaiban-keajaiban serta menghubungkannya dengan misteri-misteri yang tidak dapat ditembus dengan kehidupan yang mereka jalani. Suatu objek, pengalaman dan fenomena yang semula profan akan menjadi suci apabila ada hubungan khusus yang dilaksanakan oleh sekelompok orang atau anggota masyarakat terhadap objek, pengalaman dan fenomena tersebut.[5]
                Dalam masyarakat tradisional di atas, Tuhan tidak selesai sebagai sesuatu yang hanya harus disembah, melainkan juga harus menjadi contoh bagi segala aktivitas umat manusia di bumi profan ini. Dengan demikian segala sesuatu di bumi ini diyakini sebagai tiruan dari kesucian dunia Tuhan. Inilah yang kemudian melahirkan persepsi yang membentuk mitos, ritual dan organisasi sosial dari banyak kebudayaan kuno dan terus-menerus memberikan pengaruh kepada masyarakat tradisional di masa itu.[6]
                Robert H. Lowie menyatakan bahwa agama primitif dicirikan oleh 'suatu rasa luar biasa, misterius atau antikodrati. Sedangkan jawaban religius adalah rasa kagum dan terpesona; dan sumbernya ada dalam antikodrati, luar biasa, mengerikan, kudus, suci, illahi'. Paul Radin, menyatakan bahwa suatu perasaan religius (bukan tingkah laku religius yang khusus) adalah sesuatu yang lebih dari kepekaan normal terhadap kepercayaan dan kebiasaan tertentu, 'yang menyatakan dirinya dalam sebuah getaran hati, suatu perasaan gembira, mulia dan terpesona dalam suatu penyerapan total kepada perasaan-perasaan dalam diri manusia'.[7]
                Dari hasil penelitian Antropologi, muncul satu teori bahwa kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah bentuk agama tertua, seperti yang ditemukan oleh Andrew Lang di kalangan penduduk asli Australia. Mereka itu tidak memuja roh atau dewa-dewa, melainkan percaya kepada Tuhan sebagai Wujud Tertingi. Penemuan empiris ini didukung oleh penemuan P. Wilhelm Schmidt SVD yang berkesimpulan bahwa, pada semua bangsa dan suku bangsa yang masih sederhana di manapun dapat ditemukan kepercayaan kepada Tuhan, sebagai Wujud tertinggi, sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa monoteisme adalah bentuk agama tertua dan bersifat universal. Paul Radin juga menemukan adanya kecenderungan (hanif) monoteistis pada suku-suku bangsa primitif di Australia, Amerika dan Indonesia.[8]
1.       Kritik Sosial: Respon & Kemunculan Agama
                Dalam kenyataannya, agama-agama besar lahir dari realitas sosial yang terhampar didepannya. Dalam konteks ini, deviasi sosial, seperti penindasan kaum lemah oleh kaum kuat, pelecehan seksual yang disertai kekerasan, penimbunan dan penguasaan distribusi kekayaan-ekonomi oleh kaum borjuis, pemerahan tenaga kerja oleh kaum berduit dan lain sebagainya yang terjadi pada waktu itu merupakan salah satu historical background kemunculan sekaligus respon agama atasnya. Agama mendobrak ketimpangan-ketimpangan tersebut dengan perlawanan yang luar biasa.
                Dalam hal ini, sejarah telah mencatat, bahwa masyarakat yang hidup sebelum agama-agama lahir mengalami persoalan yang termasuk stadium yang akut dalam realita kehidupannya. Kenyataan ini diperparah dengan adanya justifikasi dari para tokoh agamawan bahwa mereka-lah yang paling berhak untuk menentukan baik dan benar  dalam persoalan agama dengan tujuan untuk melanggengkan kekuasaan serta legitimasi mereka. Akibatnya, kehidupan keagamaan pun menjadi tak menentu, dikarenakan masing-masing agamawan memiliki penafsiran masing-masing dalam persoalan agama.
                Kondisi sosio-politik, sosial, ekonomi, budaya dan yang lainnya pun tak berbeda jauh. Ketimpangan-ketimpangan yang terjadi, dijadikan alat eksploitasi demi keuntungan mereka. Dalam konteks ini, para tokoh-tokoh penguasa dan ekonomi berebut lahan untuk dijadikan pundi-pundi penambah kekayaan mereka. Bahkan tak jarang, demi kepuasaan dan kekayaan, mereka berperang satu sama lain, tanpa mengindahkan etika-etika kemanusiaan. Hal ini diperparah lagi dengan kebiasaan mereka yang menganggap rendah kaum perempuan. Kaum perempuan, dalam masyarakat waktu itu, adalah second class yang bisa diperlakukan sesukanya. Perempuan adalah barang dagangan yang layak dijadikan komoditi ekonomi serta dijadikan pemuas nafsu belaka.
                Berkaca dari fenomena sosial diatas, agama lahir untuk mengembalikan posisi manusia kembali kepada ajaran sejatinya. Agama lahir untuk memberikan tuntunan dan bimbingan yang berkeadilan dan humanis dalam aplikasinya. Hal ini tentunya dibarengi dengan sejumlah aksi nyata (political will). Agama memperbaiki dan memposisikan tatanan sosial-kemasyarakatan yang telah hancur kembali kepada aspek-aspek kemanusiannya. Dalam soal distribusi kekayan, Islam, misalnya melarang penguasaan sepihak oleh golongan tertentu, masalah-masalah penindasan dan eksploitasi manusia pun ditegaskan dengan adanya persamaan hak, kewajiban dan hukum. Posisi kaum perempuan pun ditempatkan dalam posisi yang sesuai dengan porsinya.
                Ketimpangan-ketimpangan yang diakibatkan dari deviasi sosial diatas akan menyebabkan kegelisahan seorang moralis yang sebenar-benarnya. Kegelisahan dalam dirinya, lahir akibat ia melihat realitas di sekitarnya, yang tidak sesuai dengan nurani, nilai-nilai luhur dan moral, tentu, dalam pandangan seorang guru moral yang suci.  Kegelisahan sang guru moral akan menghasilkan agama, mestilah untuk melakukan perubahan sosial, agar keseimbangan sistem sosial terjadi. Bahwa kemudian sang guru moral mendapatkan wahyu, atas klaim mereka sendiri yang kemudian dibenarkan oleh para pengikutnya, adalah soal lain.
                Yang ingin ditegaskan disini, berkaitan dengan pelacakan asul-usul agama adalah, wahyu-wahyu itu telah menjadi justifikasi sebuah tindakan sosial bagi sang guru moral. Bahwa wahyu itu diyakini sebagai betul-betul datang dari Tuhan, lagi-lagi adalah soal lain. Sebab pada kenyataannya, sang guru moral melakukan tindakan sosial dengan mengklaim diri sebagai nabi dan rasul. Hampir tidak pernah ada, tradisi dimana para nabi dan rasul, tidak mendakwahkan bahwa dirinya adalah utusan Tuhan.
                Wahyu-wahyu dalam diri seorang guru moral, sebagai justifikasi tadi, menjadi pendorong bagi penciptaan keseimbangan sosial. Beberapa orang kemudian mengikuti pikiran-pikiran dari seorang guru moral, yang telah mengklaim diri telah memperoleh wahyu tersebut. Sebagai tindakan sosial sang guru moral yang demikian, agama-agama dari asalnya muncul, kemudian mampu menyingkirkan ajaran-ajaran sebelumnya. Atau paling tidak, ajaran-ajaran itu mampu menjadi wacana tanding dalam sebuah komunitas dan menyeimbangkan hegemoni.[9]
                Dengan mempertimbangkan konteks sosial sebagai salah satu unsur dalam membedah asal-usul agama, maka terlihat jelas bahwa agama-agama besar yang ada sampai hari ini juga sekte-sekte keagamaan yang lahir belakangan, muncul untuk merespon ketimpangan-ketimpangan yang terdapat sejarah pergulatan manusia sebagai pengklaim kebenaran.
               

[1] Genealogi berusaha mengidentifikasikan hal-hal yang menyempal (accidents), mengidentifikasi penyimpangan-penyimpangan yang kecil (the minute deviations). Genealogi memfokuskan pada retakan-retakan, kondisi-kondisi sinkronik dan tumpang tindihnya pengetahuan yang bersifat akademis dalam kenangan-kenangan yang bersifat lokal. Genealogi dalam artian ini berguna untuk memperhatikan dinamika, transformasi dan diskonuitas dalam gerak perkembangan historis. Lih. Latif, Yudi, Intelegensia Muslim dan Kuasa: Genealogi Intelegensia Muslim Indonesia Abad Ke-20, Bandung, Mizan, Cet. I, 2005, h. 7-8.
[2] Ada beberapa hal yang bisa dijelaskan tentang konsep Tuhan pada manusia primitif, yaitu: Pertama, Tuhan merupakan misteri, yang Tunggal melampaui segala syukur dan mengatasi semuanya, yang tidak dapat dijelaskan. Kedua, Kekuatan Tuhan tampak di alam, bukan hanya karena menciptakan dunia sejak awal mula, tetapi juga karena Ia hadir dalam badai dan dalam semua musim. Ketiga, nama-nama dan gelar Tuhan yang biasa digunakan juga menunjukkan bahwa Ia adalah pembentuk tubuh manusia dan pemberi nafas hidup. Keempat, Tuhan adalah pemberi aturan moral dan hakim atas tindakan-tindakan manusia. Kelima, Tuhan sebagai bulan dan matahari.[2]
[3] Hidayat Komaruddin dan Nafis, Muhammad Wahyuni, Agama Masa Depan Perspektif Filsafat Perenial, Jakarta, Paramadina, Cet. I, 1995, h. 36.
[4] Ibid. h. 37.
[5] Ibid.
[6] Hidayat Komaruddin dan Nafis, Muhammad Wahyuni. op. cit. h. 38.
[7] Dhavamony, Mariasusai. op. cit. h. 90.
[8] Rahardjo, Dawam, Ensiklopedi Al-Quran: Tafsir Sosial berdasarkan Konsep-Konsep Kunci, Jakarta, Paramadina, Cet. II, 2002, h. 80.
[9] Ridwan, Nur Khalik, Detik-Detik Pembongkaran Agama: Mempopulerkan Agama Kebajikan, Menggegas Pluralisme-Pembebasan, Yogyakarta, Ar-Ruzz Book Gallery, Cet. I, 2003, h. 47-9.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar