Senin, 13 Desember 2010

PENELITIAN MENGENAI AGAMA DAN KEKARASAN


      Istilah “Agama dan kekarasan” sebenarnya adalah sebuah contradictio in terminis (istilah yang mengandung kontradiksi). Sebab, sebua agama itu mengajarkan pardamaian dan keselamatann serta menolak segala bentuk kekatrasan. Islam misalknya mengajarkan doktrin “kasih sayang bagi seluruh alam” (rahmat lil alamin).
      Sungguhpun begitu akhir-akhir ini, sejumlah aksi kekerasan telah diasosiasikan dengan kekerasan, karena matraknya aksi-aksi keketrasan atas nama agama. Misalnya gejala bom nunuh diri disebut sebagai suatu pelaksanaan jihat. Organisasi Islam semacam “Front Pembela Islam” (FPI), manyandang ciri khas dalam kegiatannya, yaitu melakukan aksi-aksi kekerasan untuk menghukum kelompok Islam lain yang dianggap sesat atau merusak kantor redaksi Playboy dalam memprotes terbitnya majalah tersebut. Sebelumnya, FPI juga dikenal sebagai kelompok yang mempergunakan aksi-aksi kekerasan dengan menyterbu dan merusak  rumah-rumah judi atau tempat-tempat hiburan da  ketika menolak kegaiatan pemilihan Miss Indonesia. 
     Yanhg menjadi masalah disini adalah bahwa tindakan keketrasan dilakukan atas nama agama. Jika hal ini terjadio terus menerus, maka akan terbentuk citra, bahwa Islam adalah sebuah agama kekerasan, apalagi kegiatan saemacam itu memperoleh legitimasi teologi, misalnya dengan doktrin jihad-nya. Jika tindakan kekerasan bisa dilegitimasikan, maka hal ini bisa bertentangan dengan doktrin lain dalam Islam, yaitu “tak ada paksaan dalam agama” (la ikraha fi al din) karena penggunaan kekerasan akan menimbulkan paksaan terhadap keyakinan.
     Pembenaran kekerasan atas nama agama, selain membahayakan masyarakat dan negara, juga ditolak oleh para pemeluk agama umumnya, termasuk kalangan Islam. Sebaliknya, ada pendapat yang kuat, bahwa agama bisa dipakai untuk mencegah tindakan kekerasan.
     Namun karena kaitanm agama dan kekerasan sudah merupakan kenyataan, bahkan kenyataan sejak awal perkembangannya, maka untuk merubah hubungan agaama dengan kekerasan menjadi agama sebagai jalan tanpa kekerasan (non-violance).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar