Senin, 13 Desember 2010

SAMUDRA HAKIKAT AL-QURAN


Bulan ramadhan merupakan salah satu kajian penting yang ada dalam keterangan al-Qur’an terutama tanggal 17 Ramadhan. Tanggal 17 ramadhan di peringati umat Islam sebagai hari turunnya al-Qur’an. Keterangan tersebut memang tidak di terangkan dalam al-Qur’an secara eksplisit, akan tetapi ada salah satu ayat al-Qur’an yang perlu dipahami mengenai penjelasan turunnya al-Qur’an ini, yaitu  sebagai berikut:



Beberapa hari yang ditentukan itu ialah bulan ramadhan, yaitu bulan yang didalamnya diturunkan permulaan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk-petunjuk itu antara yang hak dan yang dan batil
(QS. Al-baqarah: 185)

Ibnu Abbas berpendapat makna turunnya al-Qur’an pada ayat yang dipaparkan diatas adalah al-Qur’an diturunkan secara sekaligus dari lauh mahfuzh ke langit bumi. Setelah itu al-Qur’an turun secara bertahap kepada nabi muhamad SAW. Selama 23 tahun seiring peristiwa yang terjadi semenjak nabi di utus sampai wafat. Akan tetapi Abu Syahbah menuturkan, sebenarnya ayat diatas semata-mata bukan pemikiran Ibnu Abbas, tetapi kemungkinan merupakan hasil pendengaran dari nabi yang memiliki hukum marfu. Yang didasarkan pada keterangan sebuah kaidah yang menerangkan bahwa “ pendapat sahabat yang bukan berasal dari isra iliyat dan tidak masuk dalam lapangan penalaran dihukumi marfu”.
Asy-sya’bi juga berpendapat bahwa makna turunnya al-Qur’an adalah pertama kalinya kepada nabi muhamad SAW. Kareena pertama kali turun pada malam ramadhan yakni lailatul qadar  yang didasarkan pada keterangan al-Qur’an yang artinya:

Sesungguhnya kami telah menurunkan al-Qur’an pada malam kemulyaan
(QS. Al-Qadar :1)

Selain itu Asy-Syabi juga berpandapat al-Qur’an turun secara bertahap selama 23 tahun mengikuti kejadian dan peristiwa yang di hadapi nabi. Akan tetapi dalam hal ini Asy-Syabi cenderung menolak keterangan yang menyatakan bahwa turunnya al-Qur’an langsung dari lauh mahfuzh ke langit bumi. Dengan dasar dalil al-Qur’an yang artinya sebagai berikut:

Dan al-Qur’an kami telah turunkan secara berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan kami menurunkannya bagian demi bagian (al- Isra : 106)

Pendapat kedua ini didukung hadits nabi dari ‘Aisyah yang disebut-sebut sebagai isyarat permulaan wahyu. ‘Aisyah berkata. “ pertanda wahyu yang akan diterima Rasulullah SAW. Berupa mimpi baik dengan bintang subuh. Setelah mendapat mimpi itu, beliau lebih senang mengasinglkan diri dari Gua Hira selama beberapa malam, beliau merenungkan dan beribadah disana kemudian beliau kembali ke rumah istrinya Siti Khadijah untuk mempersiapkan bekal dan kembali ke Gua Hira kemudian datang malaikat Jibril datang dan berkata “bacalah” sampai lima kali ia mengucapkan kata tersebut dari surat Al-Alaq.
Selain itu ada tiga mufasir yang mengemukakan bahwa makna turunnya al-Qur’an pada ketiga ayat diatas adalah al-Qur’an diturunkan kelangit dunia dalam rentang waktu 23 lailatul qadar. Ketiga mufasir tersebut ialah Muqattil bin Hayyan, al-Qurtubi dan Al- Mawardi.
Salah satu objek penting lain dalam kajian Ulumul Qur’an adalah mengenai mukjizat khususnya mukjijat al-Qur’an. Kata I’jaz diambil dari kata a’jaza-I’jaz yang berarti melemahkan atau menjadikan tidak mampu. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT.



Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat  menguburkan mayat saudaraku ini (QS. Al-maiddah : 81)

Al-Qaththan mendefinisikan I’jaz dengan memperlihatkan kebenaran nabi SAW. Atas pengakuan kerasulannya, yaitu dengan cara membuktikan kelemahan orang-orang arab dan generasi-generasi sesudahnya untuk menandingi kemukjizatan al-Qur’an. Pakar Agama Islam mendefinisikan mujizat sebagai suatu hal atau peristiwa luar biasa yang terjadi melalui seorang yang mengakku nabi, sebagai bukti kenabiannya, yang di tujukan kepada orang yang ragu, untuk melakukan atau mendatangkan hal serupa, tetapi mereka tidak mampu melayani tantangan itu. Mujizat pula diartikan sebagai sesuatu yang luar biasa yang diperlihatkan Allah melalui para nabi dan rasulnya, sebagai bukti atas kebenaran pengakukan kenabian dan kerasulannya. Makna al-Qathan mendefinisikan sebagai suatu kejadian yang keluar dari kebiasaan, disertai dengan unsure tantangan dan tidak akan ditandingi.
Unsur-unsur yang terdapat pada mujizat, sebagaimana dijelaskan oleh Quraish sihab adalah Yang pertama, hal atau peristiwa yang luar biasa. Maksudnya sesuatu yang berada diluar jangkauan sebab akibat yang hokum-hukumnya diketahui secara umum. Dengan demikian sihir dan hipnotis misalnya, walaupun sekilas terlihat aneh bin ajaib atau luar biasa, karena dapat dipelajari, maka itu tidak termasuk dalam pengertian luar biasa. Yang kedua, terjadi atau dipaparkan oleh seseorang yang mengakui nabi. Bertitik tolak dari keyakinan umqat Islam bahwa nabi Muhammad SAW. Adalah nabi terakhir maka tidak mungkin lagi terjadi suatu mukjizat sepeninggalannya. Yang ketiga, mengandung tantangan terhadap yang meragukan kenabian. Tantangan tersebut merupakan sesuatu yang sejalan dengan ucapan sang nabi. Jika misalnya ia berkata “batu ini dapat berbicara” tetapi memang batu itu berbicara, dikatakan sang penantang berbohong, keluar biasaan ini bukanlah suatu mukjizat, tetapi ihanah dan istidraj. Yang keempat. Tantangan tersebut tidak mampu atau gagal dilayani buktinya al-Qur’an digunakan oleh nabi muhamad Saw. Untuk menantang orang-orang pada masanya dan generasi sesudahnya. Diantaranya nabi memintanya untuk mendatangkan semisal al-Qur’an secara keseluruhan, sebagaimana dijelaskan pada surat al-Isra ayat 88 yang artinya:

Katakanlah, “sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.”

Susunan gaya bahasa al-Qur’an tidak sama dengan gaya bahasa karya manusia yang dikenal masyarakat arab saat itu. Quraish shihab menjelaskan bahwa ciri gaya bahasa al-Qur’an dapat dilihat pada tiga poin yaitu yang pertama, susunan kata dan kalimat dalam al-Qur’an. Menyangkut nada dan lagamnya yang unik juga melahirkan keserasian bunyi misalnya dalam surat an-Naziat. Singkat dan padat seperti dalam surat al-Baqarahayat 212. memuaskan para pemikir dan orang banyak. Memuaskan akal dan jiwa juga keindahan dan ketepatan makna seperti dalam surat az-Zumar ayat 71. yang     kedua, keseimbangan redaksi meliputi keseimbangan antara jumlah bilangan kata dan antonimnya seperti al-hayah dan al-maut, masing-masing sebanyak 45 kali, an-naf dan al-madharah masing-masing sebanyak 50 kali. Keseimbangan jumlah bilangan kata dengan sinonimnya makna yang dikandungnya contonya al-hart dan az-ziraah masing-masing 14 kali, al-aql dan annur masing-masing 49 kali. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan jumlah kata yang menunjukan akibatnya contohnya al-infaq dengan ar-ridha masing-masing 73 kali, al-fahisyah dengan al-ghadhb masing-masing 26. keseimbangan antara jumlah bilangan dengan kata penyebabnya contohnya as-salam dengan at-thayyibat masing-masing 60 kali. Juga keseimbangan ayat yang dikhususkan contohnya kata yaum bentuk tunggal sejumlah 365 kali sebanyak hari-hari dalam setahun, al-Quran menjeelaskan bahwa ada tujuh penjelasan yang di ulang sebanyak tujuh kali pula yakni penjelasan tentang terciptanya langit dan bumi dalam 6 hari dinyatakan pula dalam tujuh ayat, kata-kata yang menunjukan pada utusan tuhan, baik rasul atau nabi atau al-basyir atau an-nadzir sebanyak 518 kali. Yang ketiga, ketelitian redaksinya. Yang telah di akui oleh tokoh-tokoh sastra sampai sekarang seperti walid al-Mughirah, Durkhaim, Gutave Lebon juga James Mitchener dalam sebuah buku yang berjudul saya lebih memilih membela Islam.
Para ulama kerap kali berbeda pendapat menjelaskan aspek kemukjizatan al-Qur’an  yaitu sebagai berikut yang pertama, menurut Gholongan Sharfah menjelang abad III H, term I’jaz masih dipahami oleh para ulama sebagai keunikan al-Qur’an dan tidak dapat ditiru oleh siapapun. Yang kedua, menurut imam Fakhruddin aspek kemukjizatan al-Qur’an terletak pada penafsiran, keunikan redaksi dan kesempurnaannya dari segala bentuk cacat. Yang ketiga, menurut Ibnu Athiyah bahwa kemukjizatan al-Qur’an terletak pada runtutannya, makna-maknanya yang dalam, dan kata-katanya yang fasih. Yang ke empat ash-Shabuni bahwa kemukjizatan al-Qur’an dari segi susunannya yang indah, adanya uslub-uslub bahasa arab, keagungan yang tak mungkin orang bias membuat yang serupa dengannya, undang-undang didalamnya sangat rinci, mengungkap hal-hal ghaib yang tidak di ketahui, uraiannya tidak bertentangan dengan pengetahuan dan mengangandung ilmu-ilmu pengetahuan, memahami segala kebutuhan manusia, juga berpengaruh bagi pengikutnya dan orang-orang yang memusuhinya. Yang kelima, menurut Quraish Shihab bahwa kemukjizatan al-Qur’an dapat dilihat dari aspek berikut. keindahan dan ketelitian redaksinya, berita tentang hal-hal ghaib seperti dalam surat yunus ayat 92, isyarat-isyarat ilmiyah seperti dalam surat yunus ayat 5 yang menerangkan bahwa cahaya matahari bersumber dari dirinya dan cahaya bulan merupakan pantulan. al-Anam ayat 125 yang menerangkan tentang kurangnya oksigen pada ketinggian dapat menyesakan nafas. Perbedaab sidk jari manusia dalam surat al-Qiyamah ayat 4. aroma atau bau manusia berbeda-beda dalam surat Yunus ayat 94. masa penyusunan ideal dan masa kehamilan minimal dalam surat al-Baqarah ayat 233. adanya nurani dan bawah sadar manusia dalam surat al-Qiyamah ayat 14-15. juga yang merasakan nyeri dalam surat an-Nisa ayat 56.
Seluruh ulama sepakat bahwa al-Qur’an adalah kalam Allah sebagaimana dlam firman Allah:




Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya (QS. At-Taubah : 6)

 Mereka juga sepakat bahwa yang menyampaikan wahyu kepada nabi adalah malaikat Jibril a.s. sebagaimana di syaratkan dalam firmannya yang artinya:

Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang diantara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa arab yang jelas (Q.S. Asy-Syu’ara: 193-195)

Mereka sepakat bahwa wahyu yang disampaikan berupa bahasa arab, tanpa mengurangi dan menambahnya. Disamping itu mereka pun sepakat bahwa tugas nabi dalam kaitanya dengan al-Qur’an hanya sekedar harus di imani oleh setiap muslim pemahaman itupun bertentangan dengan riwayat-riwayat mutawatir berupa al-Qur’an dan as-Sunnah dan kesepakatan para ulama yang menegaskan bahwa al-Qur’an- makna dan lafadnya- mereupakan kalan Allah dan berasal darinya. Jika yang disampaikan itu hanya maknanya saja  berarti itu tidak ada mukjizatnya dan membacanyapun tidak dinilai sebagai ibadah. Nabi lalu menyampaikan al-Qur’an kepada umatnya apa adanya, tanpa melakukan penambahan, pengurangan dan penyembunyian. Seperti tertera di dalam al-Qur’an surat al-Maidah :67.
Proses turunnya al-Qur’an kepada nabi muhammad melalui tiga tahapan. Yang pertama al-Qur’an turun secara sekaligus dari Allah ke lauh Mahfuzh  yaitu tempat yang merupakan catatan tentang semua ketentuan dan kepastiaan Allah. Proses isyarat ini tertera dalam surat Al-Buruj :21-22 yang berbunyi:



Bahkan yang di dustakan mereka adalah al-Qur’an yang mulia, yang tersimpan dalam lauh mahfuzh (al-Buruj : 21-22)


 Tahap kedua al-Qur’an di turunkan dari lauh mahfuzh ke bait al-izzah (tempat yang berada di langit dunia). Proses ini di isyarat kan allah dalam surat al-Qadar ayat 1 juga dalam surat ad-Dukhan ayat 3.


Sesungguhnya kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada malam kemuliaan (QS. al-Qadar : 1)

            Tahap ketiga, al-Qur’an diturunkan dari bait al-Izzah kedalam hati nabi dengan cara berangsur-angsur sesuai dengan kebutuhan, di isyaratkan dalam:



Di bawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (JIbril), ke dalam hatimu (Muhamad) agar kamu menjadi salah seorang diantara orang yang memberi peringatan dengan bahasa arab yang jelas (QS. Asy-Syu’ara: 193-195)

Hikmah diturunkan al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur yaitu memantapkan hati nabi, sebagaimana firman Allah dalam surat al-Furqan ayat 32. menentang dan melemahkan para penentang al-Qur’an., sebagaimana firman Allah dalam surat Thaha: 114 juga al-Qiyamah ayat 16-18. mengikuti setiap kejadian,dalam surat al-Isra ayat 106. yang terakhir membuktikan dengan pasti bahwa al-Qur’an turun dari allah yang maha bijaksana.
Dalam susunan mushaf usmani , surat at-Taubah memiliki beberapa nama, yaitu Bara’ah, al-Fadhihah, al-Buhuts, al-Mub’atsirah dan al-Muqhasyqhasyah. Dalam perbedaan ini ulama mengemukakan alasan yang berbeda-beda mengenai peniadaan basmalah dalam surat at-Taubah yaitu:
Pertama, meniadakan basmalah pada surat at-Taubah meerujuk pada tradisi orang-orang arab. Kedua, peniadaan basmalah pada surat at-Taubah merujuk pada jawaban Ali bin Abi Thalib. Ketiga, peniadaan basmalah pada surat at-Taubah merujuk pada dialog antara ibnu Abbas dan Usman bin Affan. Yang ke empat, tim penulis mushaf pada masa Usman bin affan berselisih pendapat tentang eksistensi surat al-Anfal dan al-Baraah “apakah merupakam dua surat atau satu surat. Yang terakhir, Jibril menurunkan surat at-Taubah tanpa menyebutkan basmallah awalnya. Pendapat ini dikemukakan oleh al-Qusyairi. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar