Minggu, 12 Desember 2010

Dari Dekonstruksi Pemikiran ke Dialog Antar-agama


PEMBARUAN pemikiran Islam dan dialog antaragama seolah tak pernah usai
diperbincangkan dan didiskusikan. Ada banyak nama pemikir Muslim yang
sangat concern dengan kedua agenda ini. Salah satunya adalah Mohammed
Arkoun, kelahiran Aljir.

Ia memfokuskan perhatiannya pada upaya untuk tidak saja memadukan
unsur yang paling mulia dalam pemikiran Islam dan unsur yang paling
berharga dalam pemikiran Barat modern, tapi juga merintis dialog
antaragama yang tak terkungkung oleh pemahaman-pemahaman klasik model
Abad Pertengahan.
Arkoun menyerukan sebuah dialog antaragama yang mencerahkan, yang
tidak memandang "yang lain" sebagai musuh yang sesaat dan harus
diselamatkan. Ia juga telah terlibat dalam dialog antar-agama,
khususnya Muslim-Kristen, selama 20 tahun lebih.
Dalam proyek pembaruan pemikiran Islam, Arkoun memakai istilah "nalar
Islam" dan "nalar modern". Yang dimaksudkan dengan nalar di situ
adalah cara berpikir suatu kelompok tertentu. Selain hendak
mempertahankan semangat keagamaan dan tempat penting yang diduduki
angan-angan sosial dalam masyarakat muslim, Arkoun mengecam kejumudan
(kebodohan, kerancuan) dan ketertutupan pemikiran Islam.

***

DALAM perspektif Arkoun, sebagian besar umat Islam belum beranjak dari
pembahasan teologis-dogmatis yang kaku dan menganggap hal itu sakral
yang karenanya tak boleh diperdebatkan lagi. Katanya, kesediaan untuk
melakukan pembahasan secara ilmiah dan terbuka dalam mempelajari dan
mengungkapkan etika AlQuran dengan tetap mengingat konteks sejarah
(asbab al-nuzul) adalah upaya untuk menepis kecenderungan negatif di
atas. Upayanya itu untuk memahami dan menangkap "isi objektif" Al
Quran memang tampak kuat.

Pada titik ini Arkoun banyak mengapresiasi tak saja khasanah Islam,
tetapi juga pemikiran Barat modern. Pemikiran Barat modern itu diambil
rasionalitas dan sikap kritisnya, yang memungkinkan memahami agama
dengan cara yang lebih baik, dapat menyingkap serta membongkar
ketertutupan dan penyelewengan seperti disebut tadi.

Ia sangat apresiatif terhadap semiotika, linguistik, antropologi,
sosiologi, dan filsafat. Meskipun demikian, Arkoun juga bersikap
kritis terhadap Barat. Misalnya, mengecam kepercayaan terhadap
superioritas akal, karena, menurut Arkoun, kepercayaan itu tidak dapat
dibuktikan oleh akal (Robert D Lee, 1996).

Arkoun melakukan apa yang disebutnya sebagai "kritik nalar Islami",
yaitu nalar Islami sebagaimana berkembang dan berfungsi pada periode
tertentu dan masih mempengaruhi serta menguasai dunia Islam hingga
hari ini. Kendati demikian, nalar Islami ini dikritik karena bukanlah
satu-satunya cara berpikir dan memahami sesuatu yang mungkin terjadi
di dalam Islam.

Untuk melakukan "kritik nalar Islami" ini, ia memakai metode kritik
sejarah; berangkat dari masalah bacaan sejarah atau problem
historisisme dan problem hermeneutik. Dengan historisisme, Arkoun
bermaksud melihat seluruh fenomena sosial-budaya melalui perspektif
sejarah: masa lalu harus dilihat menurut strata historikalnya.

Kajian historis ini harus dibatasi menurut runtutan kronologis dan
fakta-fakta nyata. Jika metode ini diaplikasikan terhadap teks-teks
agama, apa yang dibutuhkan adalah makna-makna baru yang secara
potensial bersemayam dalam teks-teks tersebut (hal. x).

Dalam proyek pembaruan pemikiran Islam ini, Arkoun sering mengajak
umat Islam untuk memanfaatkan temuan-temuan positif dari pengkajian
kembali seluruh tradisi Islam menurut pemahaman ilmiah yang paling
mutakhir.

***

BUKU yang diterjemahkan dari tulisan-tulisan Arkoun yang tersebar di
berbagai jurnal ilmiah dan buku yang ditulis bersama orang lain ini,
menyiratkan kerisauan Arkoun atas berbagai penyimpangan yang muncul
dalam ranah akademis, agama, kultural, dan sosial-politik.

Persoalan lain yang menjadi concern Arkoun adalah soal hubungan antara
Barat dan Islam. Wacana ini memang menempati posisi penting dalam
pemikirannya.

Ia tak segan mengkritik para pembaharu sebelumnya yang kurang tepat
dalam memandang Barat (Eropa). Muhammad Abduh, pembaharu dari Mesir
misalnya, meski dipandang berani dan mencerahkan, tapi di mata Arkoun
ia telah bertindak layaknya seorang apolog.

Para apolog menurut Robert D Lee dalam pengantar buku Rethinking Islam
(1996), mencoba menghadapi Barat sentris dengan Islam sentris, mencoba
mempertahankan ide bahwa hanya ada satu Islam yang secara superior dan
eksklusif mampu menemukan kebenaran.

Sikap eksklusif ini amat ditentang Arkoun. Problem dialog antaragama
yang berlangsung selama ini pun tidak terlepas dari persoalan di atas.
Menurut kesaksian Arkoun, kaum agamawan merasa berkewajiban untuk
berdiri melawan yang lain-tidak berusaha memasuki perspektif orang
lain, tetapi melindungi, mengklaim, dan menegaskan "nilai-nilai"
spesifik atau "otentisitas" yang tidak dapat dilampaui dalam agama
masing-masing.

Referensi-referensi teologis, menurut Arkoun, digunakan sebagai sistem
kultural untuk saling bersifat eksklusif dan tidak pernah digunakan
sebagai alat untuk melampaui kungkungan tradisional. Alih-alih
melakukan pemikiran keagamaan yang baru, mereka justru terperangkap
pada kubangan persepsi lama yang sudah memfosil.

Fenomena seperti itu diperparah oleh fakta yang menyedihkan, bahwa
tradisi keilmuwan lebih sering tidak dapat membantu kita untuk
bergerak menuju pemikiran keagamaan yang baru.

Untuk menyukseskan agenda dialog antaragama, khususnya antar-tiga
agama Semit, Arkoun mengajukan beberapa hal penting.

Pertama, melakukan pemikiran ulang tentang agama dan masyarakat menuju
suatu era pemikiran baru berdasarkan solidaritas historis dan
integrasi sosial.

Kedua, melakukan reformasi pemikiran dari pemikiran teologis eksklusif
menuju kritisisme radikal tanpa konsesi radikal terhadap "akal
religius" sebagaimana fungsinya dalam tradisi tiga agama Semit itu.
Ketiga, perlunya studi agama secara historis-antropologis.

Di luar semua itu, melalui terjemahan buku ini, publik di negeri kita
"dipermudah" untuk memahami dan mengapresiasi pemikiran Mohammed
Arkoun, seorang intelektual muslim radikal yang pemikiran-pemikirannya
dipengaruhi oleh kalangan posmodernis.

Dengan memahami gagasan dan pendapat-pendapat Arkoun, kita menjadi
diperkaya. Bila kita kaya akan pengetahuan, berarti cakrawala
bertambah luas, tidak sempit.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar