Minggu, 12 Desember 2010

Agama [ku] bukan Momok



Momok adalah kata yang menjijikan untuk diucapkan bagi sebagian orang, atau mungkin lebih tepatnya lagi, bagi seluruh kalangan masyarakat. Khususnya masyarakat Sunda, ketika disodorkan atau diperdengarkan kata momok kepada mereka maka serta merta kita akan dikutuk oleh orang sebagai orang yang tidak mempunyai kesopanan, tidak mempunyai etika, tatak rama, wong edan pendeknya akan mendapatkan sikap sangat tidak wajar.
Akan ada claim bahwa yang mengucapkan momok adalah orang yang tidak mengenal etiket, sopan santun, singkat kata orang itu tidak berpendidikan. Kenapa? Karena momok dalam perbendaharaan kosa kata bahasa Sunda senada dengan vagina, alat kelamin wanita. Jorok. Jijik. Geuleuh. Dan tidak pantas untuk diucapkan diruang publik, dihadapan orang ramai, di forum.  
Lain bahasa Sunda, lain pula bahasa Indonesia. Dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai sesuatu yang sangat menakutkan, mengerikan, menyeramkan dan sesuatu yang sangat tragis. Sebuah istilah atau ungkapan yang sering kita dengar di berbagai media massa. Misalnya saja, narrator Planet Football Helena V Saragih menggunakan kata ini dalam ungkapan. ‘Alessandro del Piero menjadi momok bagi tim lawan’, Momok disini diartikan dengan ketakutan atau sesuatu hal yang mesti diawasi.
Lalu mengapa pula momok disandingkan dengan agama? Apa maksudnya? Momok yang akan kita bicarakan, momok yang dipakai dalam kosakata bahasa Indonesia. Kenapa agama disebut momok? Atau kenapa agama berubah menjadi momok? Kenapa bisa terjadi hal ini?
Ditengah hiruk pikuk dunia yang serba amburadul. Kadangkala agama bisa berubah menjadi momok (Indonesia) atau malah agama, digadaikan, kalah oleh momok (sunda). Ketika moral sudah tiada lagi maka tindakan cabul berubah menjadi ritual musiman. Kakek memperkosa cucunya. Dimana posisi agama ketika manusia sudah bisa menjual harga dirinya hanya untuk sebuah pelampiasan hawa nafsu. Konon katanya adzab Tuhan itu terhalang karena masih banyak orang yang berbuat kebaikan sekarang orang yang berbuat baik saja bingung untuk melestarikan perilakunya.
Belum lagi gempuran tayangan televisi kian hari makin menjadi jadi. Agama berubah menjadi mantra ampuh mengusir setan. Ayat suci Tuhan berubah menjadi mantra politik, asmara yang super ampuh. Ayat-ayat suci dijadikan legitimasi sebagai pembunuhan, pemboman. Agama (khususnya Islam) yang di claim sebagai agama rahmatan lil alamiin, penyebar kesejahteraan, siarnya damai. Sekarang cintarnya berubah menjadi teroris yang dengan ringan membunuh dan membom sekian banyak orang yang tidak berdosa. Apakah agama yang salah? Ataukah kita sudah tidak butuh agama? Tragis!
Apakah kita masih butuh agama untuk menyelesaikan segala persoalan di dunia? Ataukah cukup dengan perkembangan tekonologi yang mulai merambah dan kepengen menjawab tentang keberadaan surga dan neraka. Manusia sudah tidak dinilai lagi dari integritas dan cerdibilitas seseorang. Melainkan pakaiankulah yang berbicara. Ya…aku berbicara dengan pakaianku ungkap Idi Subandy. Artinya apa, permainan image, pencitraan. Siapa yang bisa menguasai kuasa bahasa maka dialah jadi pemenang kata Gramsci. Kuasa bahasa bisa diartikan dengan ruang publik, jelasnya lagi adalah media elektronik. Siapa yang bisa menguasai televisi, maka dialah yang akan mengatur pencitraan dalam segala hal. Bahkan pemahaman keagamaan pun bisa di pesan.
Yasraf mengatakan bahwa kondisi sekarang ini sedang mengalami despritualisasi, kehampaan dalam beragama, tiadanya nila transcendental. Ritual sholat hanya ceremonial belaka tiada imbasnya bagi perilaku social kita. Tiap tahun orang naikm haji kian bertambah tetapi anak jalanan belum berkurang. Apakaha ini adalah pelarangan naik haji? Bukan. Sama sekali bukan tetapi jangan menyangka bahwa Tuhan. Hanya ada di makkah maka di cibeureum tidak ada. Ini adalah salah satu imbas paradigma modern yang membuat fragmentasi antara agama dan dunia. Sehingga kita merasakan kehadiran Tuhan di mesjid tetapi tidak kalau di diskotik. Kenapa hal ini bisa terjadi? Sehingga tidak salah kalau Marx mengutuk agama sebagai candu masyarakat yang mesti dilarang peredaranya karena hanya akan membuai masyarakat akan nikmat surgawi yang semu. Semoga momok itu juga tidak berubah menjadi ‘momok’. Wallahu ‘alam bish showab  To be continued…   

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar